Suci terbangun dengan keringat keluar dari semua pori-pori di seluruh tubuh terbungkus kulit kuning langsatnya. Disibakan rambutnya yang panjang terurai. Mimpi buruk itu datang lagi! Kejadian itu terus mengganggu membuat ia tidak bisa tidur setiap malam. Ya, kejadian dimalam Dani merayakan ulang tahunnya ke tujuh belas, malam dimana Suci tidak sadarkan diri setelah meminum segelas jus dari Dani. Malam dimana Suci tersadar dengan kepala berat, tanpa selembar pakaian pun dan selangkangan yang terasa sangat sakit. Malam dimana Dani dan kedua temannya hanya tertawa ketika ia menangis. Sampai sekarang Suci hanya bisa menangis. Dia tidak berani mengadukan kejadian itu pada siapa pun. Orang-orang yang pernah dianggapnya sebagai teman pun pasti tidak ada yang peduli, buktinya mereka malah meninggalkan ia malam itu.
Lari pada Bapak, berarti Suci harus menghadapi kemurkaan. Apalagi untuk mengadu kalau ia sudah terlambat datang bulan tiga minggu ini. Suci takut diusir dari rumah, ia tidak tahu harus pergi kemana. Seandainya saja Ibu tidak meninggal tiga tahun lalu, pastilah ia dapat menangis sejadinya di pangkuan Ibu. Ratih, kakak satu-satunya yang berkuliah diluar kota pun sudah lama tidak pernah pulang. Bahkan suratnya pun sudah enam bulan berhenti berdatangan. Malam ini, ia hanya bisa menangisi nasibnya sambil memeluk Teddy, satu-satunya teman yang ia punya. Tapi Teddy cuma sebuah boneka lusuh yang hanya bisa menatap kosong tanpa bisa mengeluarkan kata atau suara macam apapun saat Suci mencurahkan hatinya.


