h1

Satu sisa hati

30 September, 2007

BELUM pernah Danu merasakan kebahagiaan seperti ini. Kebahagiaan seperti cahaya mentari yang menembus gerimis butiran berlian yang berjatuhan dari langit di sore hari. Begitu indah dan berwarna cerah bermandikan kedamaian nyayian seribu malaikat diatas pelangi seperti dalam mimpi – mimpinya.

***

DANU bukanlah manusia yang lahir dengan ari-ari kebahagiaan apalagi kekayaan. Bahkan kekurangan cendrung lebih lekat dengan kehidupannya. Sejak lahir ia telah menghuni rumah beratapkan seng yang selalu nyaring meraung saat hujan deras. Hanya ada satu kamar milik orang tuanya disana, sementara Danu tidur diatas bale – bale bambu; yang selalu berisik setiap kali dia membalikan badan dan selalu terasa lebih dingin di malam – malam penuh hujan; hanya berbekal sebuah sarung usang. Bale – bale itu mengisi salah satu pojok rumah di dekat pintu masuk, terkadang berfungsi sebagai kursi tamu saat ada yang datang berkunjung atau sekedar menagih hutang. Untunglah Danu tidak memiliki saudara kandung, kakak maupun adik, sehingga dia tidak perlu berbagi harta kesayangannya itu.

Hidup dalam kekurangan tidak mengajarkan Danu untuk malas menabung. Setiap kali ia mendapatkan sedikit uang dari bapak setelah membantu pekerjaannya sebagai buruh tani, atau dari ibu setelah membantu berjualan jajanan pasar keliling kampung, atau juga dari para tetangga setelah ia membantu membetulkan genteng bocor, pintu rusak, mengangkut beras, dan pekerjaan lainya, Danu lebih suka menabungnya untuk membeli lilin. Di kampung tempat ia lahir dan besar, listrik tidak mampu mengalir terus menerus. Mungkin karena perusahaan penyedia listrik lebih merasakan kepentingan mengaliri daerah perkotaan dan perindustrian daripada sebuah kampung petani yang kehidupan penduduknya hanya dipenuhi campuran bau keringat manusia dan lumpur.

Danu sangat gemar belajar. Di malam – malam gelap Danu selalu menyalakan sebatang lilin untuk belajar hingga larut, hingga tak tersisa lagi sumbu untuk dibakar pada batang lilinnya. Ini lah yang membuat otak Danu selalu encer bagai mengalir setiap kali menghadapi ujian sekolah dan menempatkan dia selalu di peringkat pertama di kelas bahkan nilai terbaik di kampungnya, walau memang hanya ada empat SD, dua SMP dan satu SMA disana, tapi, Danu selalu memiliki nilai terbaik di kampungnya.

Sebetulnya sudah semenjak kelas 4 SD bapaknya tidak mampu lagi membiayai Danu bersekolah. Tapi karena kepandaiannya, Kepala Sekolah tempatnya belajar selalu dengan senang hati memberikan bantuan dan keringanan. Malahan saat Danu duduk di SMP dan SMU semua keperluan bersekolahnya dipenuhi bea siswa. Selain pandai, Danu juga seorang yang sopan dan rendah hati. Ia selalu merasa tidak ada kelebihan dirinya yang patut disombongkan. Sebaliknya, Danu sangat senang berbagi ilmu atau belajar bersama teman – teman sekolahnya. Di saat dia sedang tidak membantu orang tuanya dan saat tidak ada tetangga yang membutuhkan bantuannya, dia akan berada di salah satu rumah temannya untuk belajar bersama. Danu selalu disukai teman – temannya juga orang tua mereka. Terkadang, ketika Danu pulang dari salah satu rumah itu, ia menjinjing bungkusan yang kadang berisi baju bekas, sepatu bekas, buku – buku, atau apa saja barang – barang yang sudah tidak dipakai pemilik sebelumnya.

Saat kelulusan SMU, beberapa guru dan kepala sekolah yang masih bersafari mendatangai rumah Danu. Mereka sengaja datang dengan satu tujuan, merayu orang tua Danu agar mengijinkan ia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Dengan berat hati, karena yakin Danu berhasil melewati ujian itu tapi tidak mungkin untuk membiayainya melanjutkan sekolah, saat itu orang tuanya mengijinkan Danu. Dan benar, setelah mereka menemukan nama Danu lolos masuk ke dua perguruan tinggi terbaik, mereka harus bersama menelan getir kenyataan, tidak ada biaya. Tetapi esoknya, beberapa guru dan kepala sekolah yang masih bersafari kembali datang, namun kali ini mereka bersama Kepala Desa yang didampingi cantrik, keduanya juga masih bersafari. Kepala Desa mengatakan dengan beasiswa penuh yang diterima Danu, seperti yang dilaporkan kepala sekolah, orang tuanya tidak perlu membiayai sepeser pun untuk kuliah. Dan untuk keperluan lainnya, karena Danu sudah mengharumkan kampung yang erat dengan campuran bau keringat manusia dan lumpur itu, adalah suatu kebanggaan bagi warga kampung itu membantu biaya hidup Danu selama satu tahun. Dan dengan kepandaian yang Danu miliki, dia pasti akan mampu menjadi asisten pengajar pada tahun yang kedua.

DEMIKIANLAH, pada suatu pagi buta disaat mentari baru dibangunkan kokok ayam dan suara daun kering tersapu lidi, dilepas isak bangga orang tua dan ucapan selamat para tetangga, Danu pergi ke kota. Berpakaian pun hanya seadanya, memang hanya itu yang ia punya. Tapi langkahnya tegap, hatinya mantap.

***

TAHUN ketiga, sudah dua tahun ini Danu tidak lagi menerima kiriman dari kampungnya. Sebaliknya, ia justru mengirimi orang tuanya sedikit penghasilan yang didapatnya dari mengajar sebagai guru private dan asisten dosen. Dan bila ia temukan sedikit waktu senggang, akan diisinya dengan berdiskusi dengan teman - teman kuliahnya membahas tentang alam, politik dan pemerintahan, pelajaran, metode pengajaran, atau apa saja yang tidak menghamburkan waktu percuma.

Entah karena terlalu sibuk dengan segala kegiatan belajar mengajarnya, di usia ke dua puluh satu ini, Danu masih saja belum pernah berpacaran. Belum, bahkan sekalipun itu hanya cinta monyet.

Danu adalah laki - laki normal. Bukan karena Danu terkena sindrom frigidity, bukan, Danu adalah laki - laki normal. Ia menyukai memandangi perempuan - perempuan cantik dengan kulit mereka yang putih, rambut lurus tergerai, kaki - kaki jenjang yang menopang tubuh indah dengan payudara bundar meranum. Ia menyukai itu, bahkan terkadang dia pun merasakan birahi melihat mereka. Dan perempuan - perempuan juga menyukai dia. Apakah itu perempuan - perempuan dikampus, murid yang diajarnya, bahkan terakhir salah satu ibu muda seorang murid yang suaminya seorang pelaut juga pernah menggoda dia. Tapi selalu berat bagi Danu untuk membuka diri. Selalu saja ia merasa dirinya belum lah pantas untuk bersenang - senang, masih harus berusaha membahagiakan orang tua, meniti jalan meraih cita - cita… Terlebih dari semua itu, sebetulnya ada rasa rendah diri dalam hatinya. Danu merasa, kondisi dirinya yang lekat dengan keadaan yang serba kekurangan membuat dia belum mampu dan pantas untuk berkasih - kasihan.

TAPI pada hari itu, di awal semester baru, segala alasan dan pikirannya tercacah saat seorang mahasiswi salah satu mata kuliah praktikum yang diajarnya memasuki ruang. Sejenak hening, segalanya seakan mengabur, hanya ada bayangan sesosok malaikat tak bersayap berjalan menebar rebak berjuta kantil mencumbu hidung dan melemahkan kesadaran. Mata Danu tak sudi berkedip, lekat menatap tanpa satu hembusan napas pun yang boleh terlewatkan.

Perempuan itu, tubuh semampai dengan tonjolan dada dan pinggul yang begitu seimbang berbalut kulit putih bersih bercampur merah muda tanpa noda, gemulai geraknya bagai helai sutra tertiup angin senja. Rambutnya hitam lurus panjang tergerai seperti air terjun di hutan tropis yang tak pernah terjamah pelancong dan tak kering di musim kemarau, memantulkan cahaya sekitar seolah dia adalah cahaya itu sendiri. Dibalik sebuah kacamata berbentuk oval kecil, terpasang manis sepasang mata yang menyimpan mata air yang sejuk dan jernih, begitu tenang tanpa riak. Lehernya jenjang menjulang bagai menara gading menopang sebuah kepala indah bertatahkan bibir bagai batu mirah tak bergincu namun terlihat basah menggoda. Ooh..sungguh, kesederhanaan perempuan tanpa berdandan tapi indah melebihi peri penghuni khayangan.

Hanya sebuah kata singkat mengatakan “hadir” menjawab ketika Danu menyebutkan nama Adinda Pramesti. Tetapi suara yang menghantarkan kata itu begitu penuh dengan energi yang tersalurkan melalui telinga kedalam otak Danu. Membunuh teori Tomatis karena Danu malah terdiam, kehilangan konsentrasi dan kesadaran begitu energi itu menyentuh otak dan mengalir melalui seluruh jaringan syaraf. Untung saja pengaruhnya hanya terasa beberapa detik sebelum Danu berhasil menangkap kesadarannya lalu menelannya utuh - utuh.

***

SEJAK pertemuaan pertama yang mengisi salah satu lemari kenangan Danu yang pintunya langsung dipaku rapat tanpa celah untuk kenangan menyelinap pergi itu, kehidupan Danu telah berubah. Ia kini lebih senang menghabiskan waktu bersama Adinda daripada duduk berkumpul dan berdiskusi dengan teman - temannya. Danu sangat bersukur pada waktu konsultasi dan diskusi tanpa bayaran yang ia tawarkan pada Adinda diterimanya dengan senang hati. Mungkin bagi Adinda itu merupakan suatu kesempatan baik untuk menggali ilmu yang dimiliki Danu, tapi bagi Danu, hanya suatu alasan untuk menghabiskan waktu bersama berdua. Dan pembicaraan dalam pertemuan - pertemuan di kantin, taman, kelas kosong, atau di bangku lorong kampus selama empat bulan terakhir itu telah berkembang menjadi pembicaraan mengenai mata kuliah lain, kehidupan, lingkungan, dan juga, hal pribadi. Dengan nyaman Adinda bisa bercerita mengenai pandangan orang - orang disekitarnya tentang dia. Betapa orang mengatakan Adinda adalah jelmaan gunung es perawan yang tidak ingin disentuh oleh manusia manapun. Begitu dingin, kaku, dan selalu bersembunyi dalam kesendirian. Cukup banyak laki - laki yang mencoba mendekatinya, tapi usaha mereka selalu kandas dengan sekali tepisan mulut Adinda, “maaf, saya tidak mencari laki - laki untuk hubungan apapun“. Dan mereka akan segera berlari kembali ke sarang mereka, atau ke pangkuan ibu mereka, sambil berasumsi bahwa Adinda adalah seorang lesbian dalam nyaring teriakan mereka.

“Apakah kamu seperti yang mereka katakan, Adinda?”

“Tidak. Aku bukan lesbian. Aku rasa Mas Danu juga tahu itu.”

“Lalu kenapa kamu usir mereka? Padahal mereka kan tampan, sebagian pandai, dan hampir semua, maaf, kamu jangan salah menyimpulkan, mereka memiliki materi yang cukup.”

“Mungkin. Tapi mereka hanya anjing kampung yang sebaiknya semua perempuan usir jauh - jauh dari kehidupan mereka. Jika mereka memang manusia yang mendekati perempuan dengan hati, mereka tidak akan membual bahwa aku ini lesbian kan Mas?”

Hmm..betul juga, pikir Danu. Jika mereka, semua laki - laki itu, memang mendekati Adinda dengan rasa cinta, tentunya mereka akan tetap mencintai dia tanpa dendam, tanpa bualan - bualan kosong seperti yang dihadapi Adinda saat ini.

“Mmm…kalo aku boleh tahu, apakah kamu sudah memiliki seorang pacar, Adinda?”

Adinda diam sesaat, “lebih baik kita membahas yang lain Mas. Tidak apa - apa kan?”

Dan selalu berakhir seperti itu. Setiap kali Danu bertanya hal itu, Adinda selalu menjawabnya dengan pengalihan pembicaraan. Lagi, Adinda berhasil mengaduk segala perasaan dan pikiran Danu. Mengkandaskan segala asa yang coba didirikan setiap kali Danu bertanya.

Danu tahu kalau Adinda pasti telah merasakan adanya perhatian yang lebih dan rasa yang tumbuh dalam hati Danu. Tapi mengapa Adinda selalu bersikap begitu, tak pernah Danu tahu alasannya. Mungkinkah Adinda memang sudah mempunya kekasih? Atau memang dia adalah jelmaan gunung es perawan yang tidak ingin disentuh oleh manusia manapun. Danu bingung. Tapi ia mengerti benar, bahwa dirinya telah jatuh cinta pada perempuan itu.

***

SORE itu langit begitu kalut dengan awan gelap bergulung seolah mencerminkan isi hati Danu. Sore itu tak ia temukan Adinda diantara mahasiswa yang mengikuti kuliah praktikum. Tidak biasanya Adinda seperti ini.

Apakah dia sedang sakit? Tapi sepertinya kemarin siang dia baik - baik saja“, pikir Danu.

Dan kekhawatiran itu memuncak menembus ubun - ubun Danu ketika salah satu temannya menyampaikan pesan Adinda yang disampaikannya tadi pagi ketika bertemu di lapangan parkir, “Adinda minta kamu ke Rumah Sakit Bhakti Melati Internasional jam 4 sore ini. Nih, kamu pake motorku aja. Pasti kamu masih sempat ketemu, ini kan baru jam 3 sore.”

Tanpa basa - basi Danu segera menerima kunci motor itu, dan setelah tak lupa berterima kasih Danu berjalan, setengah berlari, menuju tempat parkir. Gerimis mulai turun, tapi Danu tidak peduli.

GERIMIS itu menemani Danu sepanjang satu jam perjalanannya ke rumah sakit. Ketika Danu melangkah memasuki pintu rumah sakit, menunggu di salah satu bangku Adinda dengan wajah penuh dengan kesedihan. Danu segera menghampiri dan duduk disebelahnya. Sebelum Danu sempat bertanya, Adinda sudah memandangnya dengan mencoba untuk tersenyum. Ada sisa isak dalam suara Adinda saat ia menjelaskan mengapa ia meminta Danu untuk datang kesitu.

“Maaf kalo aku sudah bikin Mas Danu repot dan khawatir karena aku meminta Mas Danu datang kesini, mana diluar sedang hujan. Aku juga mohon maaf bila yang akan aku katakan membuat Mas Danu kecewa.”

Adinda diam sesaat. Menarik napas panjang, lalu kembali berkata, “Mas Danu selalu nanya apakah aku mempunyai seorang kekasih. Saat ini aku jawab, Mas. Ya, Mas. Betul. Aku sudah punya seorang kekasih, dan kami sudah bertunangan selama satu tahun.”

Danu diam. Harapannya hancur berkeping tanpa ada satu kepingpun yang tersisa menempel dalam diri.

“Maaf, Mas. Namanya Andy. Kalian punya sifat yang hampir sama. Begitu tulus dan mampu memberikan kedamaian dalam hari - hariku. Tapi, sekarang ini Danu kekasihku itu sudah divonis dokter, Mas. Dia mengidap leukemia. Dalam enam bulan terakhir kondisinya sudah menurun drastis. Tapi ia selalu menolak untuk menjalani kemoterapi atau pengobatan keluar negri. Ia selalu keras kepala dan mengatakan semua adalah kehendak TUHAN. Dan malam kemarin, dia kembali masuk kesini. Hematolog yang menanganinya mengatakan sudah saatnya bagi kami untuk berdoa mengharapkan kekuatan dalam kepasrahan.”

Kali ini mereka berdua diam. Danu memberanikan diri untuk menggenggam jemari Adinda. Tapi tak ada satu katapun yang ingin ia katakan.

“Aku mohon Mas Danu jangan dulu bertanya mengapa, tapi dia mau ketemu sama Mas Danu.”

“Aku?”, Danu bingung, “kenapa aku?”

Adinda tidak berkata lagi, ia hanya berdiri dan menarik tangan Danu yang masih menggenggam tangannya. Danu mengikuti dengan sejuta pertanyaan yang berputar tanpa mampu menemukan jawaban dalam kepalanya.

DALAM kamar, berbaring sesosok tubuh manusia dengan tubuh lemas sepucat mayat tanpa gerak. Danu tidak sanggup melihat kondisi laki - laki itu dengan berbagai alat medis di sekujur tubuh kurus kering itu. Laki - laki itu berusaha tersenyum setelah membuka mata dan menemukan Adinda berdiri disebelah Danu disamping tempat tidurnya, dan bersusah payah mengangkat tangan untuk menjabat Danu lalu memberi isyarat agar Danu mendekat. Hati Danu pilu.

Perlahan dan terbata laki - laki itu bercerita, tiga bulan belakangan ini Adinda selalu bercerita tentang pertemuan - pertemuannya dengan Danu dan semua pembicaraan yang terjadi kala itu. Begitu banyak yang Adinda ceritakan, tapi Andy hanya mampu mengingat bagaimana ia menemukan cahaya kehidupan di mata Adinda saat bercerita. Hal itu lah yang membuatnya yakin bahwa Danu adalah orang yang tepat.

“Tepat untuk apa?” Danu bertanya.

“Mas Danu, saya mohon, saya yakin Mas Danu sangat sayang dan mencintai Dinda. Dari cahaya yang saya lihat di mata Dinda, saya yakin kalo Dinda juga mempunyai rasa yang sama dengan Mas Danu.”

“Alasan saya meminta Dinda mengundang Mas Danu kesini karena saya tahu, waktu saya sudah sangat pendek. Saya akan segera kembali ke Sang Pencipta. Tapi saya sangat mencintai Dinda, karenanya saya ingin sebelum saya pergi, saya tahu ada seorang laki - laki yang juga bisa mencintai Dinda dan menjaga dia. Dengan begitu saya bisa pergi dengan tenang. Setelah saya mengerti perasaan Mas Danu dan Dinda, saya ingin memohon pada Mas Danu untuk menjaga Dinda. Dia bagai malaikat, dia sangat kuat dan tegar. Tapi dia adalah manusia, dia adalah perempuan, dia tetap memerlukan laki - laki untuk menjaganya.”

Andy menghela napas, sesaat terdiam untuk mengumpulkan tenaga, lalu bertanya, “bagaimana Mas Danu, bisa?”

Danu tak mampu berkata - kata. Dengan susah payah ia hanya mencoba mengatur senyum sambil mengangguk. tapi terlihat jelas dimatanya, harapan yang tadinya telah hancur berkeping kembali terlekat oleh bahagia dalam hati dan pancaran auranya.

“Terima kasih, Mas. Kalo Mas Danu tidak keberatan, saya ingin bicara dengan Dinda. Sekali lagi, terima kasih banyak Mas. Sekarang hati saya sudah tenang dan bahagia.”

Kembali dengan senyum yang diatur dan tanpa kata Danu berpamitan. Danu menjabat kecil tangan Andy, tersenyum sesaat pada Adinda yang semenjak tadi hanya menahan ledakan tangis di matanya sambil menggenggam tangan kiri Andy.

Danu segera melangkah keluar. Danu bahagia. Belum pernah Danu merasakan kebahagiaan seperti ini. Merasa begitu utuh dan sempurna. Tak lagi ia berusaha menutupi senyum tergambar di wajahnya. Sungguh, Danu bahagia.

KINI Danu memacu sepeda motor itu, masi dengan senyum di wajah. Hatinya melambung tinggi dan menggambarkan sebuah pelangi di langit sore. Ia sangat ingin dunia mengetahui betapa bahagia dirinya karena kini ia dapat mencintai Adinda dengan sepenuhnya.

Sebuah bus mendadak muncul dari belakang truk dihadapan Danu dengan arah berlawanan dan dalam kecepatan tinggi. Danu berusaha menghentikan motornya, tapi motor itu tetap saja melaju kencang hingga oleng. Tak terkendali.

Sesaat, gelap. Pandangan sirna dan tak ada suara terdengar.

Beberapa detik kemudian Danu menemukan dirinya sudah berada di atas aspal basah, ia tak tahu apa yang sebelumnya terjadi. Pandangannya segera tertuju pada ban hitam berdecit berusaha mencengkram jalanan. Tapi terlalu laju, jalanan terlalu basah, dan benda itu terus bergerak menghampiri kepala Danu.

Sesaat, kembali gelap. Pandangan sirna dan tak ada suara terdengar.

Detik berikutnya Danu melihat orang berbondong berusaha mengeluarkan manusia – manusia yang terperangkap dalam bus yang berhenti dalam posisi terbalik diatas tanah basah. Mungkin mereka belum memperhatikan sesosok tubuh pemuda yang tergolek diaspal. Tapi Danu tidak bersedih. Pikirannya kembali melayang bersama jiwanya, hanya bayangan Adinda yang terlukiskan. Wanita indah dengan berjuta senyuman itu.

Belum pernah Danu merasakan kebahagiaan seperti ini. Kebahagiaan seperti cahaya mentari yang menembus gerimis butiran berlian yang berjatuhan dari langit di sore itu. Begitu indah dan berwarna cerah bermandikan kedamaian nyayian seribu malaikat diatas pelangi seperti dalam mimpi – mimpinya.

Tinggalkan Komentar