
Kabut Bening dan Sesosok Nyawa
16 September, 2007Pagi buta, matahari masi menikmati tidurnya walau bulan mulai pucat kelelahan. Dingin kabut pagi yang menyelinap melalui jendela kayu dengan cat usang tidak berhasil membujuk Danang membenamkan diri dalam lelap. Sudah lewat beberapa purnama kantuk meninggalkan mata Danang dan tak kembali. Bermalam-malam, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, ia berusaha mencari jawaban tentang kematian.
Danang sebetulnya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang dokter. Dia juga tidak tertarik dengan dunia supranatural. Tapi sudah puluhan gigabyte literatur dan catatan dari segala sumber di internet yang terkumpul mengenai kematian mulai dari penjelasan ilmu pasti, penjelasan bermacam agama dan kepercayaan, bahkan hingga laporan pengalaman mereka yang mengaku sudah mati dan kembali hidup entah mengapa. Dan literatur – literatur pembahasan sama dalam bentuk buku yang dibacanya pun sudah mulai menumpuk memenuhi ruang-ruang rumah, menggantikan tempat kasur yang sudah disingkirkannya, diatas lemari, kolong meja, hingga kamar mandi. Berbaur dengan catatan tidak beraturan yang tidak lagi hanya di tuliskan di kertas, tapi juga dinding, lantai, daun pintu, baju, atau apa saja yang yang dapat ditulisi. Tapi Danang tidak ingin menjadi dokter, ia juga tidak tertarik dengan dunia supranatural.
Ini berawal pada saat suatu malam, ia terbangun dengan mata terbelalak dan peluh memenuhi seluruh tubuhnya. Wajahnya sepucat mayat yang kehabisan darah. Suatu kengerian baru saja dilihatnya dalam tidur. Danang bermimpi rumahnya dipenuhi dengan keluarga, tetangga, teman, bahkan beberapa wajah asing. Semua mengenakan pakaian perkabungan berwarna hitam, tetapi mereka tertawa, semua tertawa begitu nyaring dan menggangu telinga Danang saat ia mencoba untuk masuk. Ingin rasanya dia mengusir semua orang dari rumahnya, tapi Danang lebih terfokus dengan alasan mereka berkumpul disitu.
Ditengah ruangan ditemuinya orang berkumpul mengelilingi sebuah peti mati berwarna coklat muda berbahan kayu murah dengan pecahan dibeberapa permukaannya. Permukaan itu pun tidak dihiasi dengan ukiran – ukiran indah layaknya peti mati pada umumnya. Biasanya mereka memilih peti mati yang cantik untuk penghormatan terakhir pada yang meninggal. Batin mulai mencoba menerka, siapa pun yang mengisi peti mati ini, pastilah orang yang tidak patut dikenang dan dihargai kepergiannya. Semua masih tertawa. Mendorong Danang untuk bergerak lebih mendekat.
Danang berusaha menggosok kedua matanya, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ternyata jasad yang mengisi peti mati itu tak lain dari wajah yang selalu ia lihat dalam cermin. Jasadnya terbujur kaku tanpa gerak walau beberapa lalat dengan girang berjalan-jalan diatasnya. Ketidak percayaan bertumbuh, semakin besar dan berbuah ketakutan yang teramat sangat. Danang berusaha menyeruak mundur menerobos gerombolan orang, hingga kakinya terantuk salah satu dari mereka dan terjerembab dikamarnya. Sebuah pemandangan gelap lainnya sedang terjadi didalam situ. Beberapa orang sedang asik mengosongkan lemarinya seperti pengungsi yang sedang berebut bantuan sosial. Danang ingin berteriak, tapi kata-kata justru menyumpal mulut hingga tenggorokannya, semua kata enggan keluar. Danang terus berusaha. Dan saat akhirnya suara itu keluar, ia hanya menemukan dirinya sendiri, terbangun dari mimpi, pucat pasi.
Mimpi itu berulang, begitu terus setiap ia tertidur. Hingga suatu malam ia memutuskan sudah terlalu takut untuk memejamkan matanya. Pencarian pun lahir. Dimulai dengan mencari semua tulisan arti mimpi. Beberapa minggu ia mencari dan bertanya kanan kiri, tapi tak satu sumber pun yang dapat memberi penjelasan. Sampai ia muak dengan segala pertanyaan dan penjelasan, dan muak dengan rasa takutnya sendiri. Akhirnya ia berkesimpulan, bahwa waktunya mati sudah dekat dan ia harus bersiap untuk itu. Tapi seperti apa? Bersiap untuk apa? Untuk kemana? Apa arti kematian itu sendiri?
Danang memulai pencarian baru, pencarian tentang kematian untuk mempersiapkan dirinya memasuki hal baru ini. Ia merasa harus tahu, kemana ia akan pergi setelah ia mati dan apa yang ia lakukan disana setelah menerima kematian itu. Bermalam-malam, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, ia berusaha mencari jawaban tentang kematian.
Sudah beribu alasan berusaha ia mengerti. Penjelasan bagaimana mahluk hidup mati hanya ditulis oleh mereka yang masih hidup, atau hanya mengamati hewan laboratorium yang mereka bunuh untuk alasan ilmu pengetahuan yang sia-sia tanpa mampu memberikan jawaban. Penjelasan yang dijabarkan ilmu agama dan kepercayaan manapun tidak bisa diterima logika, lagi pula tulisan – tulisan itu juga ditulis oleh mereka yang masih hidup, bahkan masih berusaha hidup, menghindari kematian. Tidak satupun dari manusia, dari dulu hingga sekarang, yang mampu memuaskan pertanyaannya.
Rasa muak itu kembali, kini ia sudah terlalu lelah dengan segala penjelasan dan memutuskan berhenti bertanya. Danang memilih untuk mencari ketenangan. Pagi ini, ia mencabuti semua paku yang menahan pintu dan jendela agar semua dapat terbuka lebar. Dipanggilnya beberapa penjual barang bekas yang dengan girang mengangkuti buku – buku gratis. Bahkan kertas – kertas penuh dengan catatan tidak beraturan itu pun masi dapat menghasilkan uang setelah dijadikan pembungkus gorengan.
Lalu Danang memanggil tukang lain untuk mencat seluruh rumah, menghilangkan semua catatan yang ditulisnya di dinding, lantai, daun pintu, dan apa saja yang yang telah ditulisi. Semua, tanpa sisa. Terakhir ia cabut semua kabel dari laptop dan komputernya, dan semua ia masukan dalam satu kardus besar. Semua, tanpa sisa.
Danang puas melihat semua kesunyian yang menutupi seisi rumah. Kini ia benar – benar lelah. Ia mengambil kursi, duduk disebelah jendela kayu yang terbuka lebar. Kabut mulai meraba bumi, menyelimuti malam dengan kedamaian yang telah lama hilang dari hati. Dilipatnya rapi, didekap dengan keintiman dalam sebuah senyuman. Ia mulai memejamkan mata. Namun dapat ia lihat dirinya begitu tenang dalam diam. Tanpa gelora pertanyaan dan gairah pemberontakan. Begitu terpikat diam tanpa gerak hingga tak lagi ingin bernapas. Hanya diam, tapi tetap tersenyum. Lalu berjalan bersama kabut, bergerak menurut tiupan angin. Meninggalkan jasad yang begitu terpikat diam tanpa gerak hingga tak lagi ingin bernapas.
Hm… *grins*
U know what my smile means…
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Hilly!!
Well.. it’s about Danang that was in search for answers about death and how to prepare him self to face it. In the end, when he found no answer to all his question, he surrender to fate and found peace in his last journey to mort