
Kering…
12 September, 2007Suci terbangun dengan keringat keluar dari semua pori-pori di seluruh tubuh terbungkus kulit kuning langsatnya. Disibakan rambutnya yang panjang terurai. Mimpi buruk itu datang lagi! Kejadian itu terus mengganggu membuat ia tidak bisa tidur setiap malam. Ya, kejadian dimalam Dani merayakan ulang tahunnya ke tujuh belas, malam dimana Suci tidak sadarkan diri setelah meminum segelas jus dari Dani. Malam dimana Suci tersadar dengan kepala berat, tanpa selembar pakaian pun dan selangkangan yang terasa sangat sakit. Malam dimana Dani dan kedua temannya hanya tertawa ketika ia menangis. Sampai sekarang Suci hanya bisa menangis. Dia tidak berani mengadukan kejadian itu pada siapa pun. Orang-orang yang pernah dianggapnya sebagai teman pun pasti tidak ada yang peduli, buktinya mereka malah meninggalkan ia malam itu.
Lari pada Bapak, berarti Suci harus menghadapi kemurkaan. Apalagi untuk mengadu kalau ia sudah terlambat datang bulan tiga minggu ini. Suci takut diusir dari rumah, ia tidak tahu harus pergi kemana. Seandainya saja Ibu tidak meninggal tiga tahun lalu, pastilah ia dapat menangis sejadinya di pangkuan Ibu. Ratih, kakak satu-satunya yang berkuliah diluar kota pun sudah lama tidak pernah pulang. Bahkan suratnya pun sudah enam bulan berhenti berdatangan. Malam ini, ia hanya bisa menangisi nasibnya sambil memeluk Teddy, satu-satunya teman yang ia punya. Tapi Teddy cuma sebuah boneka lusuh yang hanya bisa menatap kosong tanpa bisa mengeluarkan kata atau suara macam apapun saat Suci mencurahkan hatinya.
Untunglah sekarang masih masa liburan sekolah. Tapi minggu depan Suci harus kembali bertemu dengan iblis-iblis itu. Memikirkan mereka saja sudah membuat muak, apalagi harus bertemu muka dengan mereka. Suci tidak ingin mereka tahu kalau ia hamil. Mereka pasti hanya akan mengolok-olok atau membuat berjuta alasan tanpa satu pikiran pun yang meringankan beban Suci. Atau mungkin hanya menyuruh Suci untuk menggugurkan kandungannya.
Menggugurkan kandungan? Tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam batin Suci, mungkin menggugurkan kandungannya adalah jalan terbaik. Dia teringat sebuah edisi majalah gelap siswa di sekolah yang ia yakin masih ia simpan. Edisi dimana Suci mengulas kecurigaan terlibatnya Kepala Sekolah dalam tindakan korupsi dana pendidikan dari Pemerintah Pusat. Tapi bukan itu yang Suci perlukan saat ini. Ada seorang siswa sinting yang menuliskan resep jamu penggugur kandungan di majalah edisi itu. Dulu sempat Suci merasa jijik dengan kelakuan penulis artikel itu, tapi kini mungkin hanya siswa sinting itu yang patut untuk diberi ucapan terima kasih. Ya, mungkin nanti bila terbukti ramuan itu berhasil.
Suci mulai mencari majalah itu. Di acaknya semua tumpukan kertas-kertas hasil ulangan, tugas-tugas, buku dan catatan, dan akhirnya, majalah gelap sekolah yang dicarinya. Dibagian belakang majalah ia menemukan resep ramuan itu. Suci membacanya sekilas sambil berjongkok dilantai, menatap kosong langit-langit kamarnya sesaat. Hanya sesaat, sesaat untuk menghajar keberaniannya dan bangkit dari tangis.
◊◊◊
Seolah tak sabar menanti, bulan sudah menyembul kecil dilangit sore. Berusaha menidurkan mentari yang lelah bergantungan sedari pagi.
Tapi bahkan sejuk sepoi angin di sore musim kemarau itu tak mampu membalutkan rasa damai di hati Suci. Lemah Suci berjalan. Kepalanya tertunduk, begitu dalam hingga matanya hanya mampu melihat pikirannya sendiri. Suci tak bisa membohongi dirinya, ia cemas. Kepalanya dipenuhi dengan tanya “bagaimana?”. Tapi bukan, bukan bagaimana bila ia keracunan dan mati. Bukan itu yang menakuti pikirannya. Suci hanya takut satu hal. Bagaimana kalau si jabang bayi masi bercokol dalam rahimnya…
Pikiran itu masi terus berputar dikepala Suci saat ia sudah mulai meracik bahan-bahan ramuan yang ia dapat dari seorang penjual jamu godok langganan Ibunya dulu, walau terkadang pikirannya disibukan dengan berulang kali membaca resep itu, mengira-ngira berapa banyak campuran yang ia perlukan, lalu menandai tulisannya untuk bahan apa saja yang sudah dia kumpulkan.
Tiba-tiba terdengar pintu depan diketuk. Suci terhentak, tak biasanya Bapak pulang sesore ini. Tergesa ia membereskan semua bahan ramuannya. Cepat ia masukan dalam laci bumbu masakan dan menutupinya dengan koran bekas. Tapi ada sesuatu yang Suci lupa…
Dengan sedikit berlari ia menuju pintu rumah. Betul saja, ternyata Bapaknya pulang lebih cepat hari ini. Seolah tak percaya, Suci sempat melirik jam dinding yang masi menunjuk ke angka tujuh saat ia mencium tangan Bapaknya. Tanpa dimintai penjelasan, Bapaknya yang bekerja sebagai supir pribadi seorang pengusaha besar itu menceritakan kalo majikannya sedang keluar negeri, jadi setelah mengantarnya ke bandara, ia diperbolehkan pulang. Suci tidak berkata apapun, hanya mengangguk sambil berusaha keras tersenyum.
Semenjak Ibunya meninggal dan kakaknya berkuliah, Suci hanya tinggal berdua saja dengan Bapak. Karenanya, sudah menjadi kebiasaan setiap hari Suci selalu menyiapkan segelas kopi pada saat Bapaknya pulang. Sore itu, karena kepalanya dipenuhi dengan ketakutan kalo-kalo Bapak menemukan bahan jamu penggugur kandungan yang belum sempat Suci sembunyikan dengan lebih baik, Suci lupa membuat kopi. Tapi karena juga pulang lebih sore, Bapak berkata lebih baik membuat kopi itu sendiri. Sekali-sekali tidak merepotkan anak gadisnya, begitu katanya. Sambil berjalan ke dapur, Bapaknya masih terus bercerita tentang teman-temannya di tempat bekerja. Semua kalimat mengalir tanpa tujuan, hanya sebagian yang menggetar gendang telinga Suci tanpa berhasil memasuki otaknya. Suci masih cemas. Tiba-tiba kalimat-kalimat itu terhenti. Cukup lama Suci baru menyadarinya dan melirik ke dapur. Disitu ia menemukan Bapak berdiri mematung dengan tangan menggenggam sebuah majalah kecil. Suci kaget, panik, bingung, tapi tidak dapat melakukan apapun.
“Suci! Apa yang kamu lakukan dengan ini?!”
Suci masi terdiam saat Bapaknya mulai bertanya tentang tulisan dibelakang majalah itu. Puluhan tanya dan duga mengalir dari mulut Bapak, menggunung di kepala Suci membuatnya terlalu berat untuk ditegakan. Suci hanya diam, hanya air matanya yang mengalir deras berjatuhan ke lantai. Tanya yang tak bertemu jawab itu meninggi, berubah menjadi amarah. Suci hanya diam, semua kata hilang dari mulutnya, bahkan saat tangan Bapak mendarat keras di pipi, susah payah Suci menelan suara yang hampir saja keluar. Panas yang bersisa semakin membuat air matanya menghujani lantai.
Sesaat mereka terdiam. Itu adalah pertama kali Suci terkena tamparan dari Bapaknya. Sesaat mereka terdiam.
Pelukan penuh kecewa dan penyesalan kemudian diberikan Bapak. Tanpa kata dan suara. Sesaat Suci merasa damai, terlindungi, sedikit terobati, dan mulai berani bereaksi dengan membalas pelukan Bapaknya. Mereka masih terdiam, hanya berpelukan.
Tapi itu tidak lama…
Sesaat kemudian laki-laki yang sudah tiga tahun ditinggal isterinya itu merasakan hal yang berbeda saat buah dada anaknya yang tengah meranum itu terhimpit di dada. Bentuk tubuh sintal berisi dengan kulit langsat yang halus itu semakin meracuni otaknya. Tangannya mulai menjalar dan menggerayangi tubuh anak perempuannya. Suci berusaha melawan, berontak, tapi tamparan tangan Bapaknya kali ini terasa lebih keras sehingga Suci kehilangan pandangan. Semuanya gelap dan sunyi.
Bulan sudah bertahta dilangit malam saat Suci tersadar dengan kepala berat, tanpa selembar pakaian pun dan selangkangan yang terasa sangat sakit. Tapi kali ini ia tidak menangis. Air mata itu sudah kering sumbernya. Malam pun terdiam, sunyi tanpa suara seekor jangkrik pun diluar sana.
◊◊◊
Lewat kaca jendela bis Suci sekilas melihat segerombal anak-anak yang mengangkat ember masing-masing satu menembus kabut pagi. Setahun sudah kemarau panjang itu belum juga pergi. Hampir semua sumur dikampungnya mengering. Beberapa yang masi sedikit berisi menjadi antrian warga termasuk gerombolan anak-anak tadi. Tapi hanya sekian detik pemandangan itu mengalihkan perhatian Suci. Sejak kejadian dua hari lalu, semua rasa telah hengkang dari hatinya. Hanya dendam yang kini mengisi. Ya. Dendam yang tidak akan terbayar sebelum ia melihat Bapaknya mati. Bahkan semenjak setengah perjalanan pelariannya yang hanya berbekal sedikit uang tabungan dan sepucuk surat usang dari kakaknya, ada sebuah pikiran baru dalam kerja otaknya. Suci berpikir cara untuk segera mewujudkan kematian Bapaknya. Sedari tadi ia mencoba menulis, menyusun satu per satu kemungkinan persis seperti penulis naskah cerita misteri.
“…tapi mampukah aku melakukannya”, bertanya ia dalam hatinya.
Suci kelelahan. Bukan karena perjalanan panjang atau kepul asap rokok sepanjang perjalanan dalam bis tak ber-AC, tapi karena ia tak juga berhenti berpikir tanpa menemukan keberanian.
Sebelum akhirnya tertidur, Suci menulis:
Aku ingin membunuhnya!
Aku mungkin terlahir sebagai pembunuh. Tetapi aku juga terlahir dengan ketidak-mampuan dan hati yang lembek. Aku hanya mampu membunuh dalam tulisanku.
Bodohnya aku!
Bis antar kota itu melaju kencang, seolah gundah berusaha meninggalkan pikiran dan kepedihan Suci di jalanan.
◊◊◊
Peruntungankah yang membawa Suci bertemu dengan kakaknya? Suci tidak mau memikirkan itu, bahkan ia tidak mau berpikir bagaimana bisa ia menemukan kakaknya. Yang ia tahu, ia sudah menemukannya dan hanya ingin menangis dipelukannya. Sejadi-jadinya.
Sejak pertemuan sore tadi, tak juga Suci melepaskan Ratih. Dipeluknya erat seolah takut kehilangan. Bukan hanya kehilangan kakak satu-satunya, tapi Suci takut kehilangan tempat mengadu satu-satunya yang baru saja ia temukan. Semua sesak di dada ia tumpahkan tanpa kata atau cerita, hanya lewat air mata yang meluap bagai mata air di awal musim penghujan.
Ratih juga diam, berkali ia mencium kening Suci sembari sesekali mengusap wajah Suci dengan punggung tangannya, tapi tanpa ada kata. Baru setelah adiknya sedikit tenang Ratih mencoba untuk memecah kesunyian yang dipenuhi dengan kepedihan itu dan mulai berkata-kata. Tapi alih-alih menenangkan, Ratih justru mengagetkan adiknya dengan kejujuran.
Baru saat ini Suci tahu yang sebenarnya terjadi. Ternyata menghilangnya Ratih bukan karena ia tidak lagi peduli dengan keluarganya. Dan alasan yang sama juga yang mungkin telah membunuh Ibu. Setelah Ratih dengan tepat menebak yang dilakukan Bapak pada Suci, Ratih bercerita bagaimana kesuciannya juga telah direnggut laki-laki itu. Dengan penuh rasa benci Ratih bercerita kejadian di tiga malam berturut-turut sebelum ia pergi dari rumah, saat Bapak menyelinap masuk kedalam kamarnya setelah semua tertidur. Laki-laki itu selalu bersenjatakan ancaman akan membunuh istrinya jika Ratih menolak, itulah mengapa Ratih selalu hanya mampu menahan tangisnya saat iblis laki-laki itu berpesta pora diatas tubuhnya.
“Sama seperti kamu adikku, aku juga sangat ingin membunuh dia. Dia yang sudah membunuh jiwaku, hatiku, dan kepercayaanku pada semua laki-laki di muka bumi. Ya adikku, Suci, aku akan membunuh dia!”
Suci diam. Dia dapat melihat kilatan kesungguhan bercampur dengan dendam di mata Ratih.
“Tapi adikku sayang, sebelum aku membunuh laki-laki itu untukmu, untuk Ibu, dan untuk diriku, aku akan mengobati hatimu Suci. Akan aku tunjukan bahwa Tuhan salah telah menciptakan laki-laki. Karena kita tidak membutuhkan mahluk yang sama sekali tidak berguna itu. Kemarilah sayang, dan bercintalah dengan aku.”
Suci diam. Kerongkongan perempuan itu kering. Bahkan saat Ratih mulai menjamahi tubuhnya dengan penuh birahi.
Diluar angin dingin musim kering berhembus kencang memucatkan rembulan yang bertengger dilangit kelam.
I lost words.
You’re simply born with the talent to make a great art-work.
Speechless,
terus bekarya ya Mgo, jangan biarin tinta kamu kering barang sedetik karena air mata ini tak kan pernah kering membaca karya mu.
[...] Creative Writting "Aku mungkin terlahir sebagai pembunuh. Tetapi aku juga terlahir dengan ketidak-mampuan dan hati yang lembek…" [...]