
Putri
11 September, 2007Pertemuan pertama…
Perempuan itu secantik putri dewi penghuni khayangan. Kulit wajahnya putih mulus bersih. Mata cokelat bulat berbulu lentik, dihiasi alis tebal. Pipinya kemerahan manja. Bibirnya merah muda bercahaya berhias senyum yang indah. Rambut hitamnya tergerai panjang tebal, melambai tertiup angin. Suatu komposisi indah tak bercela, selalu menarik pandanganku untuk menatapnya.
Tubuhnya tinggi langsing berisi. Antara dada, pinggul, kaki, dan tangannya tersusun harmonis. Jenjang leher, lekuk pinggang dan jemarinya bergerak bagaikan lantunan simphoni. Giginya putih tersusun rapih menggodaku untuk selalu berusaha membuat dia mengeluarkan tawa renyahnya.
Dihalaman pertama berbaris rapih tulisan tangan Rangga dalam sebuah buku tulis kecil yang baru saja Putri temukan terbungkus kain merah terselip diantara baju-baju bekas milik laki-laki yang telah menjadi suaminya. Putri menutup buku itu, tertulis angka sembilan belas sembilan puluh tujuh. Tahun pertemuannya dengan Rangga. Mereka bertemu sejak tahun pertama Putri kuliah, Rangga sudah setahun diatas angkatan Putri.
Putri berjalan keluar dari gudang, mengurungkan niatnya mengumpulkan baju-baju bekas layak pakai yang akan dia sumbangkan untuk korban banjir di salah satu daerah di Jawa Tengah. Saat ini Putri lebih tertarik untuk membaca buku suaminya.
Diruang keluarga Putri duduk bersantai sambil mendengarkan irama musik bossa nova yang mengalun merdu dari CD player-nya, lalu meneruskan membuka buku itu. Di halaman berikutnya. Ada kalimat pendek yang dihiasi gambar-gambar lucu digoreskan dengan pinsil tipis:
Sensualitas penampakan luarmu tidak secantik hati dan pikiranmu. Suatu awal…
“Ah, laki-laki ini… Dia tidak pernah mengunakan kata sensual bila sedang bercakap dengan ku.” Putri tersenyum, karena kalimat ini diselesaikan dengan sebuah gambar hati. Mungkin maksudnya adalah awal dari cintanya. “Untung saja suamiku sedang bekerja, bila dia tahu aku menemukan buku ini pasti dia akan malu.”
Segera dia buka dan membaca halaman berikutnya. Tertulis sebuah puisi dalam bahasa Inggris:
I want you to come out
and feel the pale moonlight
so you will understand
how much I miss you
come…
and touch the cold night wind
so you will know
how much I need you
and you will regret
because you are not here with me tonight
Dan pada halaman berikutnya hanya kalimat-kalimat pendek, lebih banyak coretan. Entah gambar atau tulisan atau memang hanya coretan tak berarti. Di bagian atas ada tulisan:
AKU RINDU…
Lalu beberapa tulisan tak berarah serupa. Dibagian paling bawah tertuliskan kalimat pendek
Aku ingin kamu ada disini…
Beberapa lembar berikutnya hanyalah lembaran dengan coretan-coretan yang kurang menarik hati Putri, sampai pada sebuah halaman yang penuh dengan tulisan mirip dengan lembar bertulis sebelumnya. Rangga sedang merindu.
Halaman berikutnya bertuliskan:
Aku malas belajar! Aku tidak perduli dengan ujian. Aku hanya ingin membayangkan indah dirimu, manis senyummu, wangi tubuhmu…
Aku sangat mencintai kamu…
Lalu sisa halaman itu hanyalah gambar-gambar. Putri baru memperhatikan pada bagian bawah ada sebuah kalimat pendek ditulis dengan huruf-huruf yang kecil:
Maafkan aku, aku salah!
Aku akan melakukan apapun untukmu…
Karena aku sungguh-sungguh mencintai kamu
Putri menutup buku itu sambil tetap mengganjal halaman yang terakhir dia baca dengan jari telunjuknya. Didekapnya buku itu di dada. Tangan yang lain menghapus air mata yang berkumpul disudut matanya. Putri teringat dulu sering sekali Rangga menuliskan puisi untuknya. Pada saat Rangga menyatakan cinta pun dia menuliskan sebuah puisi cinta di majalah dinding kampus yang ditujukan pada Putri. Sampai kini Putri masih menyimpan salinan puisi itu. Terngiang kembali kata-kata teman-temannya menggoda dia sambil memberikan selamat. Bahkan Putri masih ingat beberapa laki-laki mengatakan Rangga tidak punya nyali untuk mengatakan cintanya secara langsung. Tapi tidak bagi Putri. Putri merasa hal itu adalah hal yang sangat romantis. Dan mereka yang cemburu dan menganggap Rangga laki-laki pengecut salah. Karena malamnya, walau hujan lebat, Rangga datang ke rumah kos Putri sambil membawa seikat bunga mawar berwarna merah dan putih. Rangga datang menyatakan cintanya dengan kata-kata langsung pada Putri!
Ya, bagi Putri, Rangga adalah laki-laki yang paling romantis di seluruh jagad raya. Dia yakin sekarang pun semua laki-laki yang pernah mengejek Rangga masih cemburu. Rangga tetap semesra dulu hingga saat ini, saat mereka sudah mempunyai dua orang anak perempuan. Tidak seperti suami-suami lain yang akan bosan dengan istrinya setelah melahirkan anak mereka, lalu meniduri perempuan-perempuan hijau, atau lari dengan sekretaris muda atau rekan kerja mereka, hanya mengejar kepuasan nafsu laki-lakinya. Ini membuat Putri semakin mencintai Rangga karena kesetiannya terbukti dalam delapan tahun usia pernikahan mereka, dan Putri tahu Rangga tidak akan berubah walau sampai kapan pun.
“Rangga…” Putri mengucap, lemah tertahan sambil menghapus air mata yang mengalir tak terbendung di kulit wajahnya yang masih putih mulus dengan bahu tangannya. Hidung dan pipinyanya memerah. Putri bangga hidup dengan Rangga, dia bahagia.
Putri kembali membuka buku milik Rangga. Beberapa lembar lagi penuh coretan yang tidak menarik. Lalu halaman dengan kalimat pendek:
Terimakasih kamu mau mencintai aku. Aku berjanji akan menjaga cintamu, sampai kapan pun
Pada halaman berikutnya tertulis sebuah puisi lain yang lagi dalam bahasa Inggris:
Tonight my soul are so missing you
I wish my mind can lead my hand to paint you
and my words can describe your beauty
for picture of you always embracing my dream
here I am, alone…
with my illusion soak up my brain
Oh…, how I longing for peace
like the place where you sleep
and wishing for compassion
Putri tertawa kecil, “Ternyata ada puisi-puisi indah yang kamu buat yang tidak kamu berikan padaku Rangga.”
Halaman berikutnya kembali Putri menemukan gambar-gambar lucu, matahari, hati, bunga dan gambar lain yang tidak jelas dan sudah mulai memudar. Di halaman sebelahnya hanya tulisan besar I Love You memenuhi satu halaman. Lalu hanya lembaran-lembaran kosong sampai halaman dengan tanggal yang bertuliskan:
20 Februari 1999
Terima kasih karena kau telah menjaga kesucianmu dan memberikannya untukku.
Terima kasih kau telah menjadikan aku laki-laki yang sempurna.
Terima kasih kau telah mempercayai aku.
Terima kasih untuk malam yang indah.
Terima kasih untuk segala yang telah kamu berikan untukku.
Terima kasih…
Aku mencintai kamu.
Lagi Putri tertawa kecil dan kembali mengingat kemesraan pada malam pengantin mereka setelah mereka menikah sehari sebelum tulisan yang dibuat Rangga. Melintas lagi kata-kata Rangga malam itu, bagaimana dia sangat berterima kasih, persis seperti apa yang dituliskannya.
Putri bangga pada dirinya. Putri memang selalu menjaga kehormatannya untuk malam itu. Tidak hanya dengan Rangga, tapi dengan dua laki-laki lain yang pernah memacarinya, walau mereka selalu meminta dan selalu mencoba untuk mendapatkan kesuciannya. Putri juga bangga dengan kata-kata Rangga bahwa dia telah membuktikan dan menjadikan Rangga laki-laki sejati. Berarti dirinya memang dapat memuaskan laki-laki yang menjadi suaminya itu.
“Mungkin Rangga terlalu lelah malam itu, sehingga dia baru menuliskan ucapan terima kasih ini esok harinya. Hemm… ini memberikan ide untukku. Aku akan membuatnya lelah seperti dulu malam ini.” pikir Putri. Dia jadi merasa bergairah dan ingin menyiapkan kejutan bagi Rangga.
“Anak-anak masih menginap dirumah ibu. Hanya ada kau dan aku malam ini. Cepatlah pulang, Sayang.”
Masih sambil tersenyum Putri melempar lemah buku itu di atas sofa. Tapi baru saja dia melangkah, buku itu terjatuh dengan posisi terbuka pada bagian yang Putri yakin belum dia baca. Karena penasaran Putri memungut buku itu. Benar, halaman ini baru dia temukan. Ada sumpah serapah yang ditulis Rangga disitu. Putri heran, selama dia mengenal Rangga, belum pernah laki-laki itu mengeluarkan kata-kata sekasar dalam tulisan ini. Putri kembali membuka lembaran buku itu. Dihalaman berikutnya tidak ada gambar atau tulisan apapun. Hanya sebuah lubang kecil yang dalam hingga menembus beberapa lembar kertas dibelakangnya. Ada serbuk hitam dari patahan pinsil disekitar lubang itu.
“Rangga pasti sedang marah waktu itu. Tapi kenapa dan pada siapa?” pertanyaan mulai mengganggu pikiran Putri. Dia mencoba mencari jawabannya didalam buku. Awalnya dia hanya menemukan beberapa lembar yang kosong, hanya dengan lubang karena tertembus pinsil yang semakin lama semakin kecil. Hingga pada halaman paling akhir Putri menemukan tulisan Rangga yang sangat kacau dengan isi:
Maaf Dewi,
aku tidak mau Putri sampai tahu hubungan kita selama ini.
Aku juga mencintai Putri. Dan aku telah menikahinya.
Aku tidak mau kehilangan dia.
Aku harus memilih Putri.
Dan aku harus menyingkirkan kamu dan bayi dalam kandunganmu…
Maaf Dewi, karena aku harus membunuhmu!
Putri pucat. Ruangan serasa berputar-putar dalam pandangannya. Bagai sayuran yang baru saja direbus tubuhnya melemas dan terjatuh. Pingsan…
Irama musik bossa nova masih mengalun merdu memenuhi ruangan.
whoa!
an unexpected ending…
great work!