
Pertemuan terakhir
9 September, 2007Matahari garang bersinar sombong membakar siang itu. Bukan menantang, Michael berdiri mematung. Ada sebuah tongkat penyangga di ketiak kirinya. Udara kosong, tak ada angin yang berani mendekat. Matanya menyala, tajam menatap gundukan tanah merah yang masih basah.
Pikiran Michael melayang pada kejadian semalam saat kencang dia mengemudikan mobil ditengah hujan lebat bersama Melati terduduk menangis disebelahnya. Seharusnya dia mendengar tangis Melati dan menurut pada kata-katanya. Tapi tidak, semakin rasa takut menggaung diteriakan Melati ke telinganya, Michael semakin bergairah seiring adrenalin yang mengalir kencang dalam darah ke otak, kakinya semakin dalam menekan pedal gas. Tidak, Michael tidak berminat mendengar kata-kata Melati karena merasa gadis itu juga menolak mengabulkan permintaanya di sebuah kamar hotel beberapa waktu lalu. Gadis itu justru menganggap apa yang Michael minta tidak berkaitan dengan pembuktian cinta. Melati bukanlah penganut sex bebas. Bagi Melati cinta dan persetubuhan adalah kenikmatan yang suci, sesuci pernikahan. Karenanya tidak akan dia korbankan kegadisannya hanya demi memuaskan birahi.
Michael kecewa, baginya ini berarti Melati tidak benar-benar mencintainya. Apalah arti cinta tanpa kepercayaan dan pengorbanan? Sedang tiga perempuan lain yang pernah menjadi kekasihnya mau membuktikan rasa percaya juga cinta yang sepenuhnya dengan mempersembahkan tubuh mereka pada Michael, tanpa dirinya harus bersusah payah membujuk dan merayu mereka. Cukup dengan meminta. Kenapa tidak dengan Melati?
Semakin Michael mengingat itu semakin dia tidak mengerti pada pendirian Melati yang dianggapnya terlalu naif dan kekanak-kanakan, ini membuat kemarahan semakin bercokol dalam kepalanya. Suara memohon dalam tangis Melati hilang begitu saja ditelan hujan. Perhatian Michael hanya pada jarum speedometer yang bergetar tegang di angka seratus tiga puluh dan membuat dia semakin bergairah melarikan mobilnya. Michael tertawa lepas… Hingga seorang supir taksi yang juga melarikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, melanggar lampu merah di persimpangan jalan didepan mereka. Aspal dan air hujan berpadu menjadi petaka. Michael menarik tuas rem tangan hingga berderak, pedal rem diinjak sejadinya, tapi jalanan terlalu licin, mobil itu masih tergelincir, tetap melaju kencang. Michael masih berusaha membelokan mobilnya ke kanan, tapi terlambat. Braakk!!! Bagian kiri mobil itu menghantam bagian belakang taksi yang melintas membuat mobilnya tak berarah, berguling, berguling, berguling, dan akhirnya berhenti dalam posisi terbalik.
◊◊◊
Michael melemparkan tongkat penyangga melintasi kamar menghantam dinding kamarnya hingga patah menjadi dua bagian. Kemarahan menyesak menekan dada, pandangannya buram berputar. Michael pun terjatuh terlentang. Air mata mengalir deras. Michael bangkit terduduk dan melayangkan tinju ke lantai berkali-kali hingga kepalan tangannya mengeluarkan darah.
“Kenapa harus Melati, Tuhan? Aku yang salah, bukan dia! Sejak kecil orang selalu mengajarkan aku bahwa Engkau Maha Adil, tapi kenapa tidak Kau buktikan itu? Tidak dulu, tidak kemarin, tidak juga hari ini. Huh.. Kau tidak adil!”
Kembali dia menangis sejadinya sambil mengutuki takdir. Kepercayaannya pada Tuhan kemarin malam ikut patah bersama sebelah kakinya. Dia tidak mengerti mengapa dia harus dibiarkan hidup dengan segala penyesalan merasuki jiwanya. Dia juga tidak mengerti mengapa Melati harus pergi secepat ini. Melati pergi tanpa sempat Michael meminta maaf serta membuktikan kesungguhan cintanya.
“Aku harus bertemu Melati untuk terakhir kali. Ya, Melati harus tahu aku sangat mencintai dia …”
◊◊◊
Terseok dan susah payah Michael menggulung karpet biru yang tergelar di tengah ruangan kamarnya. Ketika sedikit demi sedikit karpet itu tergulung nampak sebuah pentagram besar berwarna merah tua diatas lantai kayu. Michael berusaha berdiri dengan menopangkan tangannya pada dinding dan tertatih dia berjalan kearah sebuah lemari. Dari bawah tumpukan baju yang terlipat rapih didalam lemari dia mengambil sebuah kunci lalu berjalan menyebrangi ruangan menuju meja tulis yang menghadap jendela. Sebentar dia duduk, menarik napas dalam menahan nyeri di kakinya sebelum membuka kunci laci meja lalu mengeluarkan lima buah lilin sebesar jempol kaki dengan warna berbeda, putih, biru, merah, hijau, kuning. Lalu dikeluarkannya lagi lima buah kapur tulis dengan warna-warna sama, sekotak lilin putih dengan ukuran sebesar kapur tulis, sekotak korek api, sebuah cawan perak dan sebuah belati (juga dari perak) dengan gagang berukir yang diujung gagang itu terikat sebuah batu mirah besar berwarna merah darah. Sesaat ada yang menarik perhatiannya diluar jendela, ternyata hanya air dalam kolam renang beriak pelan memantulkan cahaya bulan yang sedang bersinar penuh. Dilangit purnama memang sedang bersinar indah tanpa terhalang selembar awanpun. Malam yang sempurna pikirnya.
Michael berdiri, tertatih berjalan kembali ke pentagram yang tergambar di tengah-tengah lantai ruangan kamar, kemudian menempatkan tigabelas lilin putih disekeliling luar lingkaran, di bagian ujung sudut atas bintang dia tempatkan lilin putih besar dan lilin lain ditaruh disetiap ujung lain searah jarum jam menurut urutan warnanya. Sambil membakar lilin-lilin itu Michael membaca doa,
“…saat aku menyalakan lilin ini, aku mengundang para dewa, para dewi dan semua roh baik dan kekuatan dari ke empat elemen… udara… api… bumi… dan air… untuk hadir dan memberkati doaku.”
Michael berdiri, berjalan ke tengah pentagram dan menjatuhkan diri, duduk ditengahnya. Michael menarik napas lalu memejamkan mata dan kembali membaca doa sebanyak tiga kali,
“… aku memohon agar aku boleh, aku memohon agar aku dapat, aku memohon dalam cahaya agar Melati dapat datang menemuiku saat ini…”
Michael membuka mata lalu menggambarkan satu segitiga dengan kapur merah, satu segitiga dengan kapur kuning dengan garis horisontal ditengahnya, dua lagi segitiga berbentuk sama dengan posisi terbalik berwarna biru dan hijau lalu sebuah simbol ditengah kumpulan segitiga tadi dengan kapur berwarna putih. Diambilnya belati dan menyayat pergelangan tangan kirinya. Darah yang mengucur dari luka sayatan itu dia kumpulkan kedalam cawan perak. Kesetiap simbol yang baru digambar dia jatuhkan beberapa tetes lalu menggambarkan lingkaran diluar simbol-simbol tadi dengan darah. Michael pun meneruskan doanya,
“…hadirlah para dewa, para dewi dan semua roh baik dan kekuatan dari ke empat elemen… udara… api… bumi… dan air… terimalah persembahanku. Dengar dan kabulkanlah permintaanku…”
Michael mengambil cawan berisi darah tadi, mengangkatnya tinggi, lalu meminumnya. Setelah itu Michael membaringkan tubuhnya dan merentangkan kaki dan tangannya mengikuti bintang bersudut lima itu dengan kepala searah dengan sudut atas bintang lalu memejamkan mata, tapi mulutnya masih terus berkomat-kamit berulang ulang “… aku memohon agar aku boleh, aku memohon agar aku dapat, aku memohon dalam cahaya agar Melati dapat datang menemuiku saat ini…”
Tiba-tiba angin bertiup kencang menghentak jendela kamar Michael hingga pecahan kaca melayang menyeruak bergemerincing. Angin itu berputar-putar didalam kamar dengan suara bergemuruh bagai badai, mengangkat dan membanting apapun, terserak kesegala penjuru. Michael terus menelungkupkan tubuhnya dalam kengerian sampai seperti diperintah angin itu kembali bertiup dengan cepat keluar melalui jendela dan meninggalkan kekacauan dalam kamar. Hening, dan gelap.
Michael kecewa. Apakah ini pertanda doanya ditolak? Tapi semangatnya masih menyala. Dalam remang sinar purnama yang mengintip dari jendela, Michael bermaksud menyiapkan sebuah ritual yang sama sambil berpikir kesalahan apa yang telah dilakukannya.
Tapi sebuah keanehan lain terjadi. Ada cahaya berbentuk seperti lingkaran melayang dilangit-langit kamar menyilaukan mata Michael. Kembali dia menelungkup karena cahaya itu begitu menyilaukan menembus kelopak mata yang sudah dikatupkan.
Pada saat Michael memberanikan diri membuka matanya, Melati melayang didepannya seperti kabut pagi tertembus sinar matahari, tersenyum hangat. Begitu hangat hingga menjalar keseluruh ruangan. Dalam takjub Michael mendekat dan mencoba untuk menarik tangan Melati. Tapi tangannya hanya menangkap kehampaan. Lagi dan terus Michael mencoba, tapi semua usahanya mendapatkan hal yang sama. Kini dia merasa senyum hangat Melati seakan mengejek dirinya. Michael mulai putus asa.
“Ayolah Melati, biarkan aku mendekapmu untuk terakhir kali ini. Tolong Melati, aku mohon.”
“Tidak, Mike. Alam kita sudah berbeda. Apa yang kau inginkan itu mustahil.”
“Melati, tolong aku, biarkanlah aku memberikan cinta untuk terakhir kali. Biarkan aku mendekapmu, menciummu…” dalam tangis Michael memohon.
“Mengertilah, Mike. Hal itu tidak mungkin. Aku tidak dapat melakukan itu. Ini semua diluar kemampuan dan kekuatanku. Juga kau, Mike. Aku mohon kau dapat merelakan kepergianku.”
“Tidak! Belum waktunya kau meninggalkan aku!”
“Itu semua bukan terserah pada kita… Tuhan sudah memanggilku dan mau tidak mau kau harus bisa menerimanya…”
“Tidak, Melati! Tuhan-mu itu salah. Kau tidak boleh mati!”
Wajah Melati berubah menunjukan kesedihan yang dalam mendengar kata-kata Michael, “jangan, Mike, jangan kau salahkan Tuhan. Dan aku juga tidak menyalahkan siapapun, tidak juga kau. Semuanya hanyalah kehendak Tuhan semata. Walau susah kau mengerti itu, cobalah untuk menerimanya.”
“Mengapa kau mengatakan itu? Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri, lebih dari aku mencintai Penciptaku, Melati. Percayalah bahwa…”
“Michael, aku tahu kau mencintai aku. Tapi ini adalah waktuku. Aku harus pergi.”
Michael berusaha bangkit mengejar bayangan Melati yang memudar bagai tertiup angin, ”jangan pergi, Melati! Aku tidak mau kau pergi! Aku mohon, Melati, jangan…”
“Selamat tinggal, Mike…”
Cahaya menyilaukan itu kini berbentuk seperti lubang dalam tak berujung diatasnya dan seperti menyedot bayangan Melati masuk. Michael mencoba mencegah, menerjang, menangkap, tapi sia-sia! Cahaya itu hilang memudar cepat menelan bayangan Melati.
“Tiidaaaaakk….!!!” Michael menjerit hingga tenggorokannya terasa perih dan paru-parunya terasa mau meledak. Dia tidak dapat membendung lagi kekecewaannya. Dia sudah nekat. Disambarnya belati dengan batu mirah merah terikat diujung gagang berukir, merah semerah darah yang menetes dari ujung matanya. Diangkatnya dengan kedua tangan tinggi-tinggi. Batu itu berkerlip terkena pantulan cahaya purnama seakan menantang nyali Michael untuk menumpahkan darahnya lebih banyak lagi.
“Aku akan segera menyusul, sayang…”
Cepat dihunjamkan belati itu tepat di jantungnya.
“Tung…gu aku sa… sayang, aku segera… menyusul…”
Dunia menjauh dan gelap dalam pandangan Michael… lalu terpejam.
◊◊◊
Saat pandangannya kembali, Michael melihat mahluk-mahluk mengerikan bertanduk dikepala dan bersayap kelelawar menertawai dia. Sejauh pandangannya berkeliling hanya api yang menghiasi. Panas membakar. Jerit dan tangis menyiksa…