h1

Kalung milik Ibu

9 September, 2007

“Selamat pagi Mas Eka… Aku berangkat.” Suara yang sangat ku kenal itu segera menghilang dengan seragam SMU-nya dari ruang makan. Seno, satu-satunya adikku, sudah semenjak berumur tujuh tahun tinggal berdua denganku, sesuai dengan pinta terakhir Ayah kami sebelum napas terakhir meninggalkan raga beliau, untuk selamanya, sembilan tahun yang lalu. Memang setelah itu sudah tentu menjadi kewajibanku untuk menghidupi dan menyekolahkan Seno, karena hanya aku kelurga yang Seno punya. Tapi pinta Ayah kami inilah yang membuatku merasa bahwa Seno lebih sebagai warisan dari Ayah. Semua apa yang menjadi keperluannya selalu aku penuhi, walau memang tidak selalu sesuai dengan apa yang benar-benar dia inginkan, tapi paling tidak aku berusaha! Toh Seno pun mengerti keadaanku.

Aku hanya seorang pembuat lukisan, bukan pelukis! Hasil lukisanku yang selalu menggambarkan kampung halaman yang aku tinggalkan hampir setahun lalu, tidaklah diperebutkan orang seperti karya pelukis besar. Bahkan sudah tiga bulan ini aku hanya dapat menjual empat buah lukisan yang hanya dapat memberikan aku dan Seno nasi dengan sayuran yang kami beli diseberang gang tempat tinggal kami. Untuk menjadi seorang karyawan dari perusahaan kecil pun aku tidak bisa. Aku hanya pernah menikmati sekolah sampai kelas satu SMP. Hingga suatu malam Ayah memintaku untuk membantunya di sawah (yang telah aku jual untuk biaya pemakaman Ayah dan sedikit modal usaha yang sudah hancur dikampung sebelum aku dan Seno pindah ke kota J). Mulai esok paginya aku mengenakan celana seragamku di sawah, tidak pernah lagi bersekolah.

Itulah mengapa pagi ini aku berkeliling rumah kontarakanku, dan seperti tadi malam, aku tak dapat menemukan barang yang cukup berharga untuk aku jual. Hanya tersisa kalung emas seberat satu gram dalam genggamanku. Kalung yang ditinggalkan (atau mungkin tertinggal) oleh Ibu. Tapi terlintas dalam pikirku, hanya ini yang mengingatkan Seno pada Ibu. Ibu pergi saat Seno berumur empat bulan. Kata Ayah, Ibu meninggal saat melahirkannya. Padaku Ayah berkata aku harus membenarkan perkataan Ayah demi Seno. Aku berumur tiga belas tahun waktu itu. Dan aku tahu, Ibu pergi dengan seorang keturunan yang sangat kaya, pemilik toko perhiasan tempat Ibu bekerja. Tapi Seno tidak pernah tahu itu.

Ah, setelah kupikir lagi, Ibu tidak akan kembali dan merasa kehilangan benda ini. Malah aku yakin laki-laki itu sudah mengganti dengan yang jauh lebih berat dan lebih bagus. Jadi bila aku jual, Seno dapat membayar SPP-nya. Ini akan lebih bermanfaat untuk Seno daripada kenangan kosong!

Hatiku mantap!

Hari makin siang, aku bergegas berangkat ke daerah M, tetanggaku bilang di toko A di daerah itu harga emas tanpa surat bisa lebih tinggi. Baiklah, dan sebaiknya, aku berangkat.

 

◊◊◊

 

Kini ada yang membuatku kesal. Bagaimana tidak, bis yang mungkin lebih tua dari Seno, berisi manusia sebanyak ini. Hampir disetiap halte manusia berloncatan menyambut bis ini, membuatnya semakin terseok. Sambil mengumpat dalam hati, aku semakin mendekap tas kecil yang berisikan sedikit uang receh, dompet berisi KTP, dan kalung Ibu, karena bermacam manusia yang berada disekelilingku kian menghimpit. Sepertinya mereka selalu meninggalkan keramahan wajah mereka dirumah (bila mereka punya itu), hanya untuk keluarganya saja. Dan tentu aku jadi curiga pada mereka.

Aku berusaha mendesak kearah pintu belakang sekaligus berusaha tidak menginjak kaki orang, sambil tetap mencurahkan segala kehati-hatian pada tas kecil dipelukanku.

Dan akhirnya aku berhasil melepaskan diri dari mereka. Hanya sesaat. Lalu kembali aku ditelan himpitan manusia dalam bis lain yang menuju daerah M. Sempat mataku melirik anak-anak (aku pikir sebagian dari mereka mungkin tidak tahu dari manusia mana yang mencampur benih mereka) yang menghilangkan keringat di kolam air mancur tepat ditengah persimpangan jalan, sebelum dua pria berseragam memerintahkan mereka untuk keluar. Tapi untunglah anak-anak itu masih sempat menikmati air yang lebih jernih daripada air yang mengalir dalam pipa saluran yang menuju rumah kontrakanku. Mungkin kedua pria berseragam tadi mengusir mereka karena takut saluran kolam air mancur yang jernih penghias kota tersumbat daki anak-anak itu atau berubah sekusam kulit mereka.

Sebuah tangan berkelebat didepanku, sangat cepat hingga aku sendiri tidak yakin melihatnya, tapi membuat kehati-hatianku kembali. Ingin rasanya kudekap tas kecilku hingga memasuki rongga dadaku ketika wanita didepanku tiba-tiba setengah berteriak dan setengah menangis berkata dompetnya hilang. Ditengah suara-suara manusia yang berkata-kata disekelilingku (aku tidak memperhatikan apa yang mereka katakan), aku berusaha mencari sosok manusia pemilik tangan yang sempat berkelebat didepanku tadi. Aku takut tas kecilku target dia selanjutnya. Dia, atau pemilik tangan sejenis.

Cukup lama hingga aku tiba di M dengan selamat. Kota besar seperti kota J memang selalu dihiasi dengan antrian panjang kendaraan di jalanannya setiap hari. Mengalir lambat seperti darah pada urat nadiku. Tas kecilku masih dalam dekapan yang sekarang sedikit aku biarkan bergelantung pada talinya yang melingkar di pundakku. Hari sudah sore, aku harus segera menemukan toko A. Petunjuk tukang parkir yang aku tanyai sangat membantuku (aku hampir tidak menghiraukan rasa curiganya yang menusuk lebih dalam dari tatapannya), karena ternyata yang kudapati lebih tepat dinamakan kios kecil A. Tapi sesore ini masih banyak manusia yang bergantian berkerumun di depan kios. Aku turut bergabung, membuat barisan yang tidak bisa disebut antrian karena kacaunya. Tak lama tiba giliranku. Seperti pada yang lain pemilik tempat itu tidak berkata apapun. Hanya mengambil kalung, menimbang, memasukannya dalam plastik kecil, kemudian memberi aku beberapa lembar uang pecahan dua puluh ribu. Aku tidak sempat dan tidak berani menghitungnya, karena pandangan pemilik tempat itu melarangku dan memerintahkan aku untuk menerimanya lalu pergi. Terlebih saat aku berbalik, aku menabrak seorang pria besar yang mengenakan seragam. Untunglah pria ini tidak menghiraukan aku. Inilah yang membuat aku memberanikan diri untuk melihat kearahnya setelah aku berjalan menjauh sekitar lima langkah. Aku melihat pemilik kios itu memberikan sejumlah uang sambil bersalaman dan mengeluarkan beberapa patah kata pada pria berseragam tadi. Pria berseragam itu hanya tertawa kecil dan pergi. Lalu aku pun pergi ke arah yang berbeda dengan tanya yang bersarang di otakku. Aku yakin tidak melihat pria berseragam tadi memberikan perhiasan dalam bentuk apapun, tapi mengapa pemilik kios itu memberinya uang?

Ah, sudahlah. Aku sudah tidak punya urusan lagi disini.

Aku segera memerintahkan kakiku untuk melangkah pergi tanpa menghiraukan sekitarku. Aku tetap melangkah sampai pandangku beradu dengan seorang wanita yang aku yakin aku kenal walaupun berselubung make up, pakaian indah dan perhiasan gemerlapan. Wanita ini berjalan dalam pelukan seorang pria keturunan yang berlainan dengan ingatanku. Benarkah?

Aku bimbang. Haruskah aku berlari memeluknya? Atau aku harus berlari pergi?

Ya! Lebih baik aku pergi! Lagipula aku tidak mengenal pria yang berjalan dengan wanita itu. Wanita yang pernah aku panggil Ibu.

Ayah mungkin benar waktu mengatakan Ayah menikahi Ibu saat Ibu masih terlalu muda. Tapi apakah itu dapat membenarkan Ibu untuk berganti-ganti pria? Aku sendiri tidak tahu pria yang aku lihat memeluk Ibu dengan mesranya itu pria yang keberapa dalam hidup Ibu. Yang aku pahami, aku semakin membenci wanita itu! Ya, aku benci dia!

 

◊◊◊

 

Saat bis yang aku tumpangi masih berdiam, aku terduduk didalam sambil mengingat berapa lembar uang dua puluh ribuan yang tadi aku masukan dalam tasku. Usaha untuk menghalau wajah Ibu dari pikiranku. Menghalau rasa cintaku padanya dan membiarkan hanya kebencian yang hidup dalam sisi kenanganku pada Ibu. Aku hanya harus berpikir tentang Seno. Hanya Seno yang masih mempunyai arti dalam hidupku. Ya, Seno tidak boleh tahu seperti apa Ibunya. Aku harus mengesampingkan dulu pikiran dan kebencianku agar saat aku bertemu dengan Seno, dia tidak kuatir karena wajahku yang dipenuhi kegundahan. Terlebih dengan uang dalam tasku yang harus benar-benar menyita kehati-hatianku. Manusia dengan maksud jahat pasti akan lebih senang ngerjain orang yang terlihat sedang gundah dan tidak terlihat percaya diri.

Tiba-tiba dua orang dengan wajah yang mirip hantu memasuki bis. Mereka berteriak-teriak, tak lama salah satunya berjalan menghampiri setiap penumpang. Puih..! Pengemis dengan pemaksaan, pikirku! Aku meyakini sebagian perkataan mereka (sudah tentu aku tidak mempercayai sisanya yang menyatakan mereka ingin bertobat dan seterusnya…). Mereka memang baru keluar dari penjara. Tapi semua itu cukup untuk mengurungkan niatku mengeluarkan dan menghitung uangku. Berganti dengan sebuah uang logam lima ratus rupiah yang kemudian aku berikan pada salah satu dari mereka. Sayang memang, tapi aku tidak mau mencari masalah. Rasa sadarku (bercampur dengan rasa takut) mengingatkan aku jangan sampai kehilangan uang hasil penjualan kalung tadi.

 

◊◊◊

 

Hari sudah gelap ketika kemacetan menahanku di dekat kolam air mancur yang aku lewati tadi siang. Pemandangannya berubah. Dan ini berhasil melepaskan pikiranku dari pertemuan sesaat tadi dengan Ibu. Aku mulai memperhatikan jumlah pria berseragam jadi berpuluh-puluh banyaknya. Anak-anak berganti dengan mahasiswa yang ratusan jumlahnya. Berteriak tentang hal-hal yang hampir tidak aku pahami atau mungkin tidak dapat aku mengerti alasannya. Aku hanya tahu mereka bergerak atas nama rakyat, walau hampir tidak ada manusia yang mereka tuntut yang mendengarkan apa yang mereka tuntut. Toh harga tetap melambung.

Tapi untuk apa aku memikirkannya. Masalahku dan hidupku sudah cukup rumit. Walau aku memang harus berterima kasih pada mereka karena sempat mengalihkan pikiranku dari kejadian tadi di M, tapi aku jadi terlalu malam sampai di rumah. Perutku yang hanya baru ku isi dengan segelas teh tadi pagi sekarang sudah meronta untuk diisi. Penyakit darah rendahku bergabung dengan bau tidak sedap keringat penumpang membuat kepalaku pusing. Mudah-mudahan Seno tidak menungguku untuk makan. Bisa kelaparan dia.

Pukul delapan lebih tujuh belas menit. Aku melirik pada jam tangan penumpang disebelahku. Sepertinya hampir satu jam aku tertahan disana tadi. Untunglah bis mulai berjalan lagi. Menjauhi kerumunan mahasiswa yang terakhir aku lihat mulai dibubarkan. Pria-pria berseragam itu kembali melakukan tugas yang sama. Membersihkan kolam air mancur penghias kota dari massa.

Tak lama aku berdiri dengan tidak lupa mendekap tas kecilku. Berusaha mendekati pintu depan bis karena aku sudah mendekati tujuanku. Kupikir sudah pukul sembilan lebih. Setelah bis berhenti aku turun. Bersyukur aku sudah selamat sampai disini. Tinggal melewati gang menuju rumahku, walau nyaris gelap gulita, tapi aku sudah cukup aman.

Dalam hati aku merasa tenang, Seno besok dapat membayar SPP-nya. Aku yakin dia juga akan memaafkan aku yang menyebabkan dia malu karena harus menunggak. Sambil mengelus-elus tasku, aku berjalan mendekati mulut gang dengan senyum. Dalam keremangan.

Praang!!!

Crek!! Crekk!!!

Bukk!

Aku tidak tahu apa saja dan siapa yang menghantamku. Tak sempat ku mengaduh. Hanya kurasakan kakiku melemas hingga tak mampu menahan berat tubuhku, lalu tak bergerak. Darah segar mengalir deras dari koyakan kepala dan punggungku yang seperti dihantam logam tajam. Pandanganku menjauh, semakin gelap, dan gelap. Tubuhku menggeliat sesaat.

Sempat aku mendengar suara yang sangat ku kenal, tapi kali ini bercampur dengan bau alkohol yang menyengat…

“Mas Eka…!!!”

Tinggalkan sebuah Komentar