h1

Untukmu..kan ku bunuh dia!

29 Agustus, 2007

Randu tidak mengerti mengapa Yogi yang dia anggap sebagai teman dekat berani melakukan hal yang membuat Randu menyesal memperkenalkan Pingkan pada Yogi. Saat itu Randu tidak berpikir Yogi akan menghianatinya dengan menyatakan cinta pada Pingkan dengan cara seperti ini, terlebih karena Yogi tahu Randu sangat mencintai Pingkan, bahkan kini, ketika Pingkan sudah bertunangan dengan laki-laki lain. Randu hanya berada di Bali selama tiga setengah bulan. Dan hal terakhir yang dia bayangkan pada saat dia kembali ke kota ini adalah pengaduan dan tangisan dari Pingkan.

Awalnya Pingkan tidak mengambil pusing dengan pernyataan Yogi. Wajar jika laki-laki jatuh cinta pada seorang perempuan. Tapi penolakan Pingkan menjadikan Yogi bersikap sebagai pisikopat. Yogi membuat Pingkan gila dengan semua kata-kata kasar dan ancaman lewat SMS atau telepon Yogi. Bahkan sekarang dia berani membuntuti Pingkan secara terang-terangan ke kantor, ke mall, kemanapun Pingkan pergi. Atau memarkir motornya berjam-jam, kapanpun dia mau, didepan rumah Pingkan. Yogi juga berani mengirimkan macam-macam ke kantor dan rumah Pingkan, mulai dari bunga, coklat, buku, kaset dan barang-barang yang bersifat sangat pribadi seperti pakaian dalam perempuan!

Randu telah merancang suatu rencana yang akan dia kerjakan. Randu mengenal betul orang yang sudah dianggapnya sebagai musuh ini. Dimana dia tinggal, dimana dia biasa nongkrong dan dengan siapa, siapa keluarganya, apa yang dilakukannya setiap hari. Semua yang diperlukan untuk melancarkan rencananya sudah dia ketahui.

Randu membatin, tersenyum. Dimatikannya televisi yang semenjak tadi tidak dia tonton, dan suara dalam kamarnya segera berganti irama musik acid jazz dengan volume yang dapat menggedor gendang telinga manusia yang tidak sedang dikuasai amarah seperti dirinya. Randu mengambil sarung tangan karet dari lemarinya dan dari bawah tempat tidur diambilnya sebuah pedang yang membuat Randu semakin haus akan darah saat pantulan cahaya dari logam tajam itu mengenai wajahnya. Randu menyeringai, ”Kau akan mati malam ini, Yogi!”

Senja hadir dengan langit berwarna merah darah…

◊◊◊

Bulan tidak menunjukan bentuknya malam ini. Awan gelap bergulung dilangit, hanya redup cahaya lampu jalan yang menimpa sedan hitam Randu. Ini hari Kamis. Randu tahu Yogi selalu berada di skate park setiap Selasa dan Kamis malam. Tidak pernah terlewatkan. Dan Yogi selalu pulang sendiri. Itulah mengapa Randu yakin malam ini adalah waktu yang tepat untuk menghabisi Yogi. Sudah lima belas menit Randu berada disini. Menunggu.

Randu melirik jam tangannya dan berkata dalam hati, “Sudah jam sembilan malam, sebentar lagi dia keluar.” Rokok yang baru setengahnya dia hisap dilemparkan keluar jendela, lalu mengecilkan volume tape mobilnya. Pandangannya tetap tertuju ke pintu keluar skate park. Tak lama matanya menangkap gerakan orang yang sedari tadi ditunggunya menyalakan motor. Randu segera mengenakan sarung tangannya. Tapi Randu heran, karena Yogi berbelok ke barat dari pintu gerbang, berlawanan dengan arah menuju rumahnya.

“Sialan! Mau kemana dia?!” Randu segera memutar kunci mobil kekiri dan merunduk sebisanya waktu Yogi melewati mobilnya. Sesaat kemudian dia mengintip kaca spion. Yogi pasti tidak menduga kalau Randu berada disitu. Yogi sudah menjauh. Tanpa berpikir lebih panjang lagi Randu segera menstater mobilnya dan mengikuti motor Yogi.

Randu masih mengikuti Yogi dengan menjaga jarak kendaraannya cukup jauh agar Yogi tidak menyadari kalau sedang dibuntuti. Lampu mobilnya sengaja tidak dia hidupkan. Tapi sementara itu pertanyaan yang sama masih menyiksa otak Randu “Mau kemana bajingan itu?”

Yogi berbelok memasuki pelataran parkir sebuah toko yang buka dua puluh empat jam. Randu pun berhenti dan memperhatikan dari jarak sekitar dua ratus meter.

“Ah… mungkin dia cuman mau beli rokok sebelum pulang. Aku masih bisa menghabisi dia seperti rencanaku” Seakan diingatkan, Randu menyalakan sebatang rokok. Tetap menunggu.

Perkiraan Randu salah. Yogi keluar tapi tetap menuju arah yang berlawanan dengan rumahnya. Dan sekarang dia tidak sendiri. Ada seorang laki-laki yang diboncengnya. “Setan! Mau kemana sih dia? Siapa juga orang yang dia bawa?” Randu bingung, mulutnya terus mengumpat. Tapi Randu terus mengikuti mereka, “Kau tetap akan mati malam ini, Yogi. Aku tidak perduli siapapun yang kamu bawa, tidak ada yang bisa melindungi kamu dari maut yang aku bawa.”

Tiba-tiba ketika berbelok di suatu persimpangan jalan Randu melihat di ujung jalan itu berdiri sebentuk bangunan tepat didepan sebuah taman makam. Randu sadar.

“Setan! Jalan ini menuju rumah Pingkan!” Randu segera menginjak gas hingga ban mobilnya berdecit keras meninggalkan noda hitam di aspal. Saat mobilnya sudah sejajar berada disebelah kanan motor Yogi, dia membantingkan setirnya ke kiri. Braakkk… Tak ayal motor dan kedua penumpangnya terpelanting keras. Sial bagi laki-laki yang duduk dibelakang Yogi. Kepalanya pecah hingga darah berceceran di tepi trotoar yang dihantamnya, tulang kakinya berderak dan menyembul keluar karena tertimpa motor.

Randu segera menghentikan mobilnya. Mengambil pedang dan keluar, langsung mengejar tubuh Yogi yang terguling-guling diatas tanah becek hingga sebuah tiang listrik menghentikannya. Yogi mencoba untuk bangkit, tapi dia tidak mampu, hanya kepalanya yang dapat bergerak, mengarahkan matanya pada laki-laki yang berjalan menghampiri sambil menghunuskan pedang.

“Ran.. Randu…”

“Haha… Maaf, malam ini aku hanya orang yang akan mengirimkanmu ke neraka! Bukan Randu.” Tanpa berkata lagi Randu mengayunkan pedangnya dan kepala Yogi menggelinding di tanah. Randu belum puas. Dihunjamkan pedangnya berkali-kali ke tubuh Yogi yang sudah tidak berkepala hingga darah membanjir menggenang. Randu tersenyum. Membuka bajunya yang sudah berbau amis terciprati darah korbannya. Pedangnya dia bersihkan dengan baju itu lalu berjalan menghampiri kepala Yogi. Sesaat Randu memperhatikan mata Yogi yang mendelik hingga mau copot keluar dari tempatnya. Sebuah ide melintas dalam otak Randu, “Aku harus memberi tahu orang tua Yogi. Kasihan bila mereka kuatir karena anak kesayangannya tidak pulang malam ini. Ya, paling tidak kepala anak mereka yang pulang. Hahaha… lelucon yang bagus!” Randu membungkus kepala itu dengan bajunya dan melangkah dengan santai kedalam mobil serta berbalik dan melaju. Dalam hati Randu bangga telah melepaskan Pingkan, perempuan yang dia cintai, dari segala teror orang keparat ini.

“Sabar Yogi, sebentar lagi aku akan mengantar kepala kamu ke orang tuamu. Hangatkan saja tubuhmu di neraka, rumah barumu…” Randu tertawa sendiri, lepas, keras, lebih keras dari musik yang keluar dari tape mobilnya.

◊◊◊

Randu tidak ingin dirinya berurusan dengan orang tua Yogi apalagi kalau sampai berurusan dengan polisi. Sebenarnya dia sudah mulai mual mencium bau anyir dalam mobilnya. Tapi Randu menunggu saat yang tepat. Sambil menghisap rokok dia memperhatikan pagar rumah itu yang berujung tajam diatasnya. “Tempat yang cocok untuk menaruh suvenir ini. Besok pagi yang pertama mereka lihat saat membuka jendela mereka adalah anaknya yang pulang malam dan tidak bisa masuk karena hanya sebagian tubuhnya yang sampai ke rumah.”

Setengah jam kemudian, setelah yakin semua penghuni rumah dan para tetangganya tertidur, Randu membawa keluar bungkusan kain putih yang sudah hampir semua berubah warna menjadi merah dan berbau menyengat dari mobil. Dengan mengendap dia berjalan mendekati pagar. Mengeluarkan kepala tak bertubuh itu dari bungkusan dan menancapkannya di atas besi pagar. Mukanya sengaja dia arahkan ke jendela rumah. Sebelum pergi dia merapihkan sedikit rambut yang kusam terbungkus darah membeku bercampur lumpur. “Sempurna!” Kembali dia tersenyum, lalu pergi.

Bulan tetap bermalas-malasan, hanya kabut tipis menyelimuti alam. Sebuah sedan hitam melaju kencang, membelah malam.

◊◊◊

Seperti biasa Randu bangun saat matahari sudah merangkak hingga tepat ditengah langit. Yang pertama diambilnya adalah rokok dan segera menyalakannya. Ada yang harus dia kerjakan, menghilangkan barang bukti. Dia masih merasa beruntung karena badan mobilnya tidak rusak sedikitpun sehingga tidak meninggalkan jejak. Sebelum melangkahkan kakinya ke kamar mandi dengan tong sampah berisi pakaian, sarung tangan dan sepatu yang semalam dia pakai, dan akan dibakarnya, Randu sempat memungut koran edisi hari ini yang selalu diselipkan tukang koran dibawah pintu masuk dengan tangan kirinya. Dibagian depan dia membaca berita yang berisi :

“…ditemukan dua mayat di depan taman makam, salah satunya tanpa kepala. Dipastikan karena pembunuhan. Polisi sudah menemukan kepala yang hilang terpancang didepan rumah korban berkat laporan keluarga korban. Tapi sayang sejauh ini polisi tidak memiliki tersangka. Tetapi pihak kepolisian berjanji akan mengembangkan kasus pembunuhan yang tergolong sangat keji ini…”

Lagi Randu hanya tersenyum sambil meneruskan langkahnya ke kamar mandi. “Hemm… Aku membuat kamu terkenal…”

◊◊◊

Malam, diluar hujan, angin menderu, menyusup menghantar dingin melalui celah pintu dan jendela. Kraakkk… Bumm!! Kilat menumbangkan sebuah pohon besar mengagetkan manusia yang sudah terlelap. Randu terbangun. Tapi dia lebih kaget lagi karena saat dia membuka mata dia melihat Pingkan berdiri dalam kamarnya di samping jendela. “Pingkan, ada apa kamu datang larut malam begini?” Tapi Pingkan hanya diam. Wajahnya pucat bagai sapi yang baru disembelih. Hanya matanya yang menatap Randu, tajam.

“Pingkan, ada apa? Kenapa kamu hanya diam disitu? Sini dong…”

“Ini semua salah kamu Randu. Aku begini karena kamu…”

“Kamu… kamu kenapa? Ada…”

“Kamu tidak menyesal Randu? Ini semua salah kamu!”

Randu bingung, dia berusaha mengambil remote tape deck-nya yang terjatuh, lalu mematikan musik yang lupa dia matikan karena tertidur. Saat matanya kembali ditujukan ke tempat Pingkan tadi berdiri, perempuan itu menghilang…

Randu semakin bingung. Dia menggosok-gosok kedua matanya dengan tangan. Tapi tetap, Pingkan sudah tidak ada. Randu mencari ke segala sudut ruangan, Pingkan memang tidak ada.

“Huh, aku pasti mimpi. Mana mungkin Pingkan datang kesini malam-malam. Lagi pula hujan-hujan begini. Goblok sekali aku ini.” Randu kembali ke rangkulan selimutnya dan tidur.

Diluar masih hujan lebat.

◊◊◊

Matahari sudah tinggi, tapi sinarnya tidak kuasa menembus awan mendung yang bergerombol dilangit. Randu sudah terbangun dan sedang menghisap rokoknya dalam-dalam. Pertemuannya dengan Pingkan semalam masih menggangu otaknya. Mimpikah?

Malas Randu melangkah untuk memungut dengan tangan kirinya, koran edisi hari ini yang selalu diselipkan tukang koran dibawah pintu masuk, lalu berjalan dan kembali duduk di atas tempat tidurnya. Kali ini dia tidak lagi tersenyum. Dibagian depan dia membaca berita yang berisi :

“…seorang wanita bernama Pingkan Pramesti (24) ditemukan tewas semalam di dalam kamarnya karena dicekik. Pada bagian lehernya didapati memar yang menurut polisi menunjukan pelakunya kemungkinan besar adalah pria. Tidak ada tanda-tanda masuk secara paksa kedalam rumah korban. Pada saat kejadian orang tua korban sedang tidak berada di tempat kejadian. Menurut keterangan polisi, satu-satunya saksi adalah pembantu rumah tangga (Suti, 48 ) yang sampai saat ini belum bisa dimintai keterangan lengkapnya karena saksi mengalami shock. Polisi mengatakan saksi hanya memberi keterangan bahwa sebelum pingsan, dia sempat melihat putri majikannya dicekik oleh pria yang tidak memiliki kepala…”

Awan mendung masih bergerombol dilangit. Bumi dirundung gelap siang itu.

Tinggalkan sebuah Komentar