h1

Jendela Kayu dan Bulan

13 Oktober, 2007

JENDELA kayu ini sudah berdiri tertopang tembok kamar lebih lama dari diriku berada disini. Ia sangat bersahabat dengan bulan, dan suatu malam ia memperkenalkan bulan padaku. Mereka adalah sahabatku, mencipta malam–malam indah bersama saat manusia lain sibuk mengorok.

SUDAH lama aku tidak ingin pergi dari kamar ini. Mungkin itu alasan mengapa aku terlihat begitu pucat. Berawal saat aku memilih untuk berhenti berbicara dengan manusia dan lebih menyukai berbicara dengan jendela kayu, laki-laki yang sejak aku kecil mengajarkanku untuk memanggilnya bapak, memvonis aku sebagai anak gila dan mengunciku rapat-rapat dikamar ini. Dan malam-malam berikutnya, ia akan berjalan sempoyongan dengan bau alkohol dari entah minuman apa berhamburan keluar dari mulutnya, masuk tanpa mengetuk, kemudian menampar, meninju, menendang dan tak lupa meludahiku hingga tak ada lagi pekik tertahan yang mampu menyelinap keluar dari rongga tenggorakanku. Lalu ia akan mulai tertidur di kursi ruang tamu atau disudut-sudut kamarku bila tak mampu lagi dia berjalan, tapi itu hanya setelah dia selesai memainkan alat kelaminnya didalam lubang anusku.

Pernah terpikir olehku untuk bersembunyi didalam lemari, tapi sayang laki-laki itu bisa menemukan aku. Dilain waktu aku mencoba untuk bungkam tanpa pekik agar dia berhenti menyiksa aku. Tapi lagi, pemikiran dan harapanku memang tidak sinkron dengan otaknya. Malam-malam penuh ritual miliknya tetap berlanjut. Berjalan sempoyongan dengan bau alkohol dari entah minuman apa berhamburan keluar dari mulutnya, masuk tanpa mengetuk, menghajarku dan tak lupa meludahiku, memainkan alat kelaminnya didalam lubang anusku, lalu tertidur di kursi ruang tamu atau disudut-sudut kamarku. Begitu saja kerjanya setiap malam, hingga disuatu saat dia tak lagi kembali ke rumah entah karena alasan apa.

Baca entri selengkapnya »

h1

Manusia Mars

7 Oktober, 2007

Hari ini adalah hari peringatan 200 tahun Jaman Luar Angkasa. Disetiap sudut lorong dek dapat ku lihat replika satelit Sputnik-1 berbentuk bola berdiameter enam puluh sentimeter dengan empat buah kaki sebagai satelit yang menjadi simbol peringatan ini. Aku tidak ingat pasti mengenai sejarah kuno Gaia, bila aku tidak salah satelit buatan itu milik sebuah negara di masa planet itu masih disebut Bumi. Negaranya bernama Uni Soviet atau mungkin sesuatu seperti itulah. Aku sendiri lupa.

Oya, namaku Dirilian. Aku dilahirkan di daerah selatan tepatnya di Sektor 13 Hellas Planitia, pada tahun 2137 Gaia. Benar. Kami masih mengacu pada perhitungan waktu menggunakan waktu Gaia, walau rotasi planet pucat itu hampir dua kali lebih cepat dari pada Mars. Dengan mengikuti perhitungan satu kali rotasi planet Gaia, satu tahun disana hanya 365 hari, sedangkan dengan perhitungan yang sama Mars membutuhkan waktu 687 hari untuk melakukan satu putaran mengelilingi matahari. Jadi bisa dikatakan, bila mengikuti tahun Gaia umurku sekarang sudah mencapai dua puluh tahun, sedang bila mengikuti perputaran tempat kelahiranku, aku masih remaja belasan tahun.

Baca entri selengkapnya »

h1

Satu sisa hati

30 September, 2007

BELUM pernah Danu merasakan kebahagiaan seperti ini. Kebahagiaan seperti cahaya mentari yang menembus gerimis butiran berlian yang berjatuhan dari langit di sore hari. Begitu indah dan berwarna cerah bermandikan kedamaian nyayian seribu malaikat diatas pelangi seperti dalam mimpi – mimpinya.

***

DANU bukanlah manusia yang lahir dengan ari-ari kebahagiaan apalagi kekayaan. Bahkan kekurangan cendrung lebih lekat dengan kehidupannya. Sejak lahir ia telah menghuni rumah beratapkan seng yang selalu nyaring meraung saat hujan deras. Hanya ada satu kamar milik orang tuanya disana, sementara Danu tidur diatas bale – bale bambu; yang selalu berisik setiap kali dia membalikan badan dan selalu terasa lebih dingin di malam – malam penuh hujan; hanya berbekal sebuah sarung usang. Bale – bale itu mengisi salah satu pojok rumah di dekat pintu masuk, terkadang berfungsi sebagai kursi tamu saat ada yang datang berkunjung atau sekedar menagih hutang. Untunglah Danu tidak memiliki saudara kandung, kakak maupun adik, sehingga dia tidak perlu berbagi harta kesayangannya itu.

Hidup dalam kekurangan tidak mengajarkan Danu untuk malas menabung. Setiap kali ia mendapatkan sedikit uang dari bapak setelah membantu pekerjaannya sebagai buruh tani, atau dari ibu setelah membantu berjualan jajanan pasar keliling kampung, atau juga dari para tetangga setelah ia membantu membetulkan genteng bocor, pintu rusak, mengangkut beras, dan pekerjaan lainya, Danu lebih suka menabungnya untuk membeli lilin. Di kampung tempat ia lahir dan besar, listrik tidak mampu mengalir terus menerus. Mungkin karena perusahaan penyedia listrik lebih merasakan kepentingan mengaliri daerah perkotaan dan perindustrian daripada sebuah kampung petani yang kehidupan penduduknya hanya dipenuhi campuran bau keringat manusia dan lumpur.

Baca entri selengkapnya »

h1

Kabut Bening dan Sesosok Nyawa

16 September, 2007

Pagi buta, matahari masi menikmati tidurnya walau bulan mulai pucat kelelahan. Dingin kabut pagi yang menyelinap melalui jendela kayu dengan cat usang tidak berhasil membujuk Danang membenamkan diri dalam lelap. Sudah lewat beberapa purnama kantuk meninggalkan mata Danang dan tak kembali. Bermalam-malam, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, ia berusaha mencari jawaban tentang kematian.

Danang sebetulnya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang dokter. Dia juga tidak tertarik dengan dunia supranatural. Tapi sudah puluhan gigabyte literatur dan catatan dari segala sumber di internet yang terkumpul mengenai kematian mulai dari penjelasan ilmu pasti, penjelasan bermacam agama dan kepercayaan, bahkan hingga laporan pengalaman mereka yang mengaku sudah mati dan kembali hidup entah mengapa. Dan literatur – literatur pembahasan sama dalam bentuk buku yang dibacanya pun sudah mulai menumpuk memenuhi ruang-ruang rumah, menggantikan tempat kasur yang sudah disingkirkannya, diatas lemari, kolong meja, hingga kamar mandi. Berbaur dengan catatan tidak beraturan yang tidak lagi hanya di tuliskan di kertas, tapi juga dinding, lantai, daun pintu, baju, atau apa saja yang yang dapat ditulisi. Tapi Danang tidak ingin menjadi dokter, ia juga tidak tertarik dengan dunia supranatural.

Baca entri selengkapnya »

h1

Peluru Penghabisan

14 September, 2007

Bulan bundar bersinar sepucat mayat bercincin merah darah. Sinarnya mencabik kabut yang merundung malam dingin. Dua sosok berbayang dibawah sebuah pohon alpukat dipinggir jalanan aspal yang sedikit becek sisa gerimis sore tadi. Sudah berjam-jam Teguh dan Anggoro berdiri disitu tanpa menghiraukan hembusan angin lembab. Kadang mereka mengibaskan tangan mereka mencoba mengusir nyamuk yang dengan beringas berpesta pora menghisap darah keduanya.

Sebenarnya Anggoro tidak mengerti apa yang akan dikerjakannya disana. Dia hanya tahu Teguh mengajaknya kesuatu tempat malam itu, untuk balas dendam katanya, entah pada siapa dan kenapa. Anggoro menurut saja karena Teguh membawakan dirinya tiga paket serbuk putih yang sangat disukainya. Setelah itu dia hanya duduk disamping Teguh yang melarikan mobilnya, menerima sepucuk pistol dengan enam buah pelurunya, yang dia juga tak tahu darimana Teguh mendapatkannya. Anggoro bahkan tidak mengerti mengapa mereka harus berjalan sejauh lima ratus meter dari tempat mobil Teguh berhenti. Sekarang dia hanya berdiri sambil menikmati sisa pengaruh serbuk putih yang dihisapnya dalam-dalam sebelum pergi, yang masih merasuki tubuhnya dan membuat lamunannya melayang. Sebentar dia sadar dan membetulkan posisi tas ransel berisi tali yang diambil Teguh dari bagasi mobilnya tadi.

Sementara itu Teguh berdiri mematung, matanya tetap tertuju pada sebuah rumah besar tak bertetangga, menunggu. Masih ada cahaya yang menerobos kaca jendela rumah itu. Hatinya terbakar, terpancar jelas dari sorot mata tajam penuh kedengkian. Sesekali tangannya bergerak menghantarkan rokok mengepul ke mulutnya.

Baca entri selengkapnya »