
Jendela Kayu dan Bulan
13 Oktober, 2007JENDELA kayu ini sudah berdiri tertopang tembok kamar lebih lama dari diriku berada disini. Ia sangat bersahabat dengan bulan, dan suatu malam ia memperkenalkan bulan padaku. Mereka adalah sahabatku, mencipta malam–malam indah bersama saat manusia lain sibuk mengorok.
SUDAH lama aku tidak ingin pergi dari kamar ini. Mungkin itu alasan mengapa aku terlihat begitu pucat. Berawal saat aku memilih untuk berhenti berbicara dengan manusia dan lebih menyukai berbicara dengan jendela kayu, laki-laki yang sejak aku kecil mengajarkanku untuk memanggilnya bapak, memvonis aku sebagai anak gila dan mengunciku rapat-rapat dikamar ini. Dan malam-malam berikutnya, ia akan berjalan sempoyongan dengan bau alkohol dari entah minuman apa berhamburan keluar dari mulutnya, masuk tanpa mengetuk, kemudian menampar, meninju, menendang dan tak lupa meludahiku hingga tak ada lagi pekik tertahan yang mampu menyelinap keluar dari rongga tenggorakanku. Lalu ia akan mulai tertidur di kursi ruang tamu atau disudut-sudut kamarku bila tak mampu lagi dia berjalan, tapi itu hanya setelah dia selesai memainkan alat kelaminnya didalam lubang anusku.
Pernah terpikir olehku untuk bersembunyi didalam lemari, tapi sayang laki-laki itu bisa menemukan aku. Dilain waktu aku mencoba untuk bungkam tanpa pekik agar dia berhenti menyiksa aku. Tapi lagi, pemikiran dan harapanku memang tidak sinkron dengan otaknya. Malam-malam penuh ritual miliknya tetap berlanjut. Berjalan sempoyongan dengan bau alkohol dari entah minuman apa berhamburan keluar dari mulutnya, masuk tanpa mengetuk, menghajarku dan tak lupa meludahiku, memainkan alat kelaminnya didalam lubang anusku, lalu tertidur di kursi ruang tamu atau disudut-sudut kamarku. Begitu saja kerjanya setiap malam, hingga disuatu saat dia tak lagi kembali ke rumah entah karena alasan apa.